SURABAYA - Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Universiti Sains Malaysia (USM) meneliti ikan gulama sebagai salah satu indikator perubahan kondisi perairan pesisir. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kondisi lingkungan laut sekaligus menggali pengetahuan nelayan di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Memahami Barometer Kondisi Perairan Pesisir bagi Masyarakat Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya)” digelar di kawasan Kejawan Lor, Surabaya, Rabu (16/9/2026) siang.
Penelitian tersebut menggabungkan pengamatan kondisi perairan dengan pengalaman nelayan yang telah bertahun-tahun melaut. Tim juga mengambil sampel ikan dan menggelar diskusi mengenai perubahan lingkungan laut serta persoalan yang dihadapi nelayan.
Dari UNAIR, kegiatan ini diikuti Lailatul Lutfiyah, S.Pi., M.Si., dan Dr. Laksmi Sulmatiwi, S.Pi., M.P. Sementara itu, USM diwakili Dr. Norhafiz Hanafi bin Ahmad Shsh, B.App. Ss., M.Sc. (UMT), Ph.D. (NSYSU).
Lailatul Lutfiyah, yang akrab disapa Bu Evi, menjelaskan bahwa penelitian berfokus pada ikan gulama dan kaitannya dengan kondisi lingkungan perairan pesisir.
Menurutnya, perubahan jumlah ikan gulama dapat menjadi salah satu parameter untuk melihat kondisi laut.
“Jadi ini risetnya tentang ikan gulama. Ikan gulama bisa membaca kondisi laut. Jadi ketika ikan gulama itu melimpah atau menurun, itu bisa dijadikan bahan untuk dijadikan parameter atau dijadikan sebagai tolok ukur untuk melihat kondisi perairan,” jelas bu Evi sebelum sesi patroli air.
Sementara itu, Dr. Norhafiz menjelaskan bahwa penelitian juga bertujuan membandingkan karakteristik ikan gulama di perairan Indonesia, khususnya Surabaya, dengan ikan gulama di perairan Malaysia.
Penelitian yang dilakukannya turut menyoroti aspek reproduksi ikan gulama.
Kegiatan diawali dengan patroli air sekitar pukul 10.00 hingga 11.41 WIB. Tim mengamati kondisi perairan sekaligus mengambil sampel.
Patroli tersebut juga melibatkan Satpol PP yang secara rutin melakukan patroli air sekitar satu bulan sekali. Pengawasan dilakukan untuk memastikan aktivitas perahu berjalan sesuai ketentuan, termasuk kapasitas muatan dan penggunaan perahu.
Selain itu, penyuluh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), M. Dwi Hardhianto, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Setelah patroli, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi bersama nelayan sekitar pukul 12.00 WIB.
Dalam sesi ini, Dr. Norhafiz menjelaskan karakteristik ikan gulama yang banyak ditemukan di wilayah pesisir dan muara. Ikan tersebut hidup berkaitan dengan habitat dasar perairan dan memakan biota dasar serta responsif terhadap perubahan lingkungan.
Dr. Norhafiz menilai nelayan memiliki peran penting dalam mengamati perubahan kondisi laut. Pengalaman melaut selama bertahun-tahun menjadi sumber pengetahuan yang penting dalam penelitian.
“Nelayan adalah sensor laut. Mata untuk melihat perubahan, hidung untuk mengesan bau, tangan untuk merasai kondisi, dan pengalaman puluhan tahun merasakan laut,” ujar Dr. Norhafiz saat sesi sosialisasi.
Dalam diskusi, tim juga membahas penggunaan ukuran jaring oleh nelayan Pamurbaya. Berdasarkan hasil pengamatan patroli, jaring berukuran empat inci dinilai dapat digunakan untuk menangkap ikan berukuran sekitar 15 hingga 20 sentimeter. Sementara itu, jaring dua inci berpotensi menangkap ikan gulama yang masih muda.
Nelayan Pamurbaya menjelaskan bahwa jaring dua inci digunakan untuk menangkap bulu ayam. Mereka juga menyampaikan bahwa ikan gulama di wilayah tersebut cenderung berukuran kecil.
Dr. Norhafiz kemudian menjelaskan bahwa perhatian utama bukan hanya ukuran tubuh ikan, melainkan usia ikan yang tertangkap. Dalam diskusi tersebut diketahui bahwa penggunaan jaring berukuran dua inci diperbolehkan berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Selain alat tangkap, nelayan menyampaikan persoalan nilai jual ikan gulama yang rendah meskipun hasil tangkapannya melimpah.
Ikan gulama yang tidak terserap pasar umumnya hanya diolah dengan cara diasinkan. Karena itu, UNAIR dan USM mendorong inovasi pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah ikan tersebut.
“Harus (cari cara) untuk menaikkan nilai tambahnya,” kata Dr. Norhafiz.
Ia mencontohkan pengolahan ikan gulama menjadi bakso ikan. Prosesnya dapat diawali dengan profiling untuk melihat kualitas dan tekstur daging.
Selanjutnya, bagian daging putih yang dinilai baik dapat diolah menjadi bakso. Inovasi ini juga berpotensi melibatkan masyarakat, termasuk ibu-ibu di sekitar kawasan nelayan.
Persoalan sampah plastik turut menjadi keluhan nelayan Pamurbaya. Nelayan Harianto menyebut sampah banyak ditemukan berasal dari kapal. Sementara itu, Satar, Ketua Nelayan Pamurbaya, mengatakan nelayan dapat menemukan sekitar lima hingga tujuh kantong sampah dalam satu kali melaut.
Menurut Satar, kondisi perairan Pamurbaya juga mengalami perubahan dibandingkan sebelum tahun 2000.
Ia menyebut hasil tangkapan ikan yang dahulu dapat mencapai sekitar Rp2 juta dalam sekali pelayaran kini mengalami penurunan. Sejumlah jenis ikan, seperti kerapu dan sembilang, juga disebut semakin sulit ditemukan.
Nelayan turut menyoroti limbah rumah tangga yang masuk ke perairan. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi keberadaan ikan, kepiting, dan biota lainnya.
“Yang ada sampah dan nyamuk,” tambah Satar.
Para nelayan berharap ada tindakan lebih tegas terhadap pembuangan sampah sembarangan. Menurut mereka, persoalan sampah berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya ikan dan pendapatan nelayan.
Di sisi lain, nelayan Pamurbaya telah mencatat hasil tangkapan setiap hari dan mendokumentasikan jenis ikan yang diperoleh. Catatan tersebut dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk membantu melihat perubahan kondisi perairan dari waktu ke waktu. (*)
Editor : A. Ramadhan



















