SURABAYA - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) melalui Kementerian Sosial Politik menyelenggarakan Swara Warga di Surabaya, Sabtu (12/9/2026).
Kolaborasi dengan Save Street Child Surabaya (SSCS), Swara Warga ditujukan bagi anak-anak marginal. Tujuannya sebagai ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi, belajar, menyampaikan aspirasi, dan menunjukkan potensi yang mereka miliki. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terlibat secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Dengan mengangkat tema “Dari Suara Menjadi Aksi”, Swara Warga untuk membangun proses yang dimulai dari mendengarkan suara anak, memahamikebutuhan danpotensinya, hingga mendorong adanya tindak lanjut yang lebih sesuai.
Ketua Pelaksana Swara Warga, Tranquea Yafi Zalifusan, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kebutuhan untuk melihat kegiatan sosial tidak hanya dari sisi pemberian bantuan.
“Bantuan materi memang penting, tetapi kami melihat bahwa anak-anak juga membutuhkan ruang untuk didengar, berinteraksi, belajar, dan menunjukkan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.
Kolaborasi BEM UNAIR dan SSCS menjadi karena perlu memahami kondisi dan kebutuhan anak-anak yang menjadi sasaran program. SSCS membantu menghubungkan kegiatan dengan anak-anak dampingan serta mendukung proses koordinasi dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
Melalui kolaborasi tersebut, Swara Warga berupaya membangun ruang yang aman dan partisipatif. Anak-anak tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan menentukan bentuk ekspresi yang ingin mereka lakukan.
Sesi ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan apa yang mereka sukai, inginkan, butuhkan, dan harapkan. Anak-anak dapat menyampaikan aspirasi melalui percakapan, tulisan, gambar, atau bentuk ekspresi lain yang mereka pilih.
Mereka tidak diwajibkan untuk menceritakan pengalaman pribadi yang tidak ingin dibagikan. Pendekatan tersebut digunakan agar proses mendengarkan tidak hanya berfokus pada masalah yang dihadapi anak, tetapi juga pada keinginan, potensi, dan harapan mereka.
Aspirasi yang muncul kemudian dapat dipetakan untuk memberikan gambaran mengenai minat dan kebutuhan peserta. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk program atau kegiatan lanjutan.
Bagi BEM UNAIR, SwaraWargabukan hanyakegiatan satu hari. Program ini menjadi salah satu upaya untuk membangun interaksi yang lebih dekat antara mahasiswa, komunitas, dan anakanak marginal melalui pendekatan yang lebih partisipatif. Swara Warga ingin menunjukkan bahwa anak-anak marginal tidak hanya memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan, tetapi juga suara yang perlu didengar, potensi yang perlu dikembangkan, dan mimpi yang layak mendapatkan kesempatan.
“Swara Warga bukan tentang kami yang berbicara untuk mereka, tetapi tentang membuka ruang agar mereka dapat berbicara untuk dirinya sendiri,” ujar Yafi.
Melalui kolaborasi BEM UNAIR dan Save Street Child Surabaya, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari upaya yang lebih berkelanjutan dalam mendengarkan suara, mendukung potensi, dan memperluas kesempatan bagi anak-anak marginal. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















