Menu
Pencarian


Influenza A Merebak, Komisi E DPRD Jatim Minta Masyarakat Tak Panik

Ayul Andhim - Rabu, 16 September 2026 16:15
Influenza A Merebak, Komisi E DPRD Jatim Minta Masyarakat Tak Panik
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., P.Ma. (Foto: Ayul Adhim)

SURABAYA - Ramainya informasi mengenai meningkatnya pasien dengan gejala influenza di sejumlah rumah sakit di Surabaya mendapat perhatian Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., P.Ma. Ia meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup sehat.

Suli Da’im mengatakan, informasi mengenai rumah sakit yang disebut penuh dengan pasien Influenza A perlu dilihat secara proporsional dan berdasarkan data yang terverifikasi. Pasalnya, kondisi di setiap rumah sakit tidak sama.

“Masyarakat jangan panik, tetapi jangan pula menganggap remeh. Kita harus melihat persoalan ini berdasarkan data dan informasi resmi dari tenaga kesehatan. Jangan sampai masyarakat takut karena informasi yang belum terverifikasi,” ujar Suli Da’im dosen FEB Umsura tersbut.

Sebelumnya, kabar mengenai sejumlah rumah sakit di Surabaya yang disebut penuh akibat pasien Influenza A ramai beredar di media sosial. RS PHC Surabaya membenarkan adanya peningkatan kunjungan pasien sekitar 20–30 persen dalam sepekan, tetapi pihak rumah sakit menegaskan kondisi rumah sakit belum penuh dan diagnosis pasien beragam.

Sementara itu, RS Husada Utama Surabaya memang melaporkan adanya peningkatan pasien influenza dalam sepekan terakhir. Ruang anak dan IGD disebut mengalami kepadatan, dengan mayoritas pasien merupakan anak-anak, sehingga rumah sakit menambah ruangan pelayanan.

Menurut politisi senior PAN ini, fakta tersebut menunjukkan perlunya pemerintah melakukan komunikasi publik secara lebih aktif.

“Yang paling penting sekarang adalah edukasi. Dinas Kesehatan Jawa Timur jangan menunggu masyarakat panik baru memberikan penjelasan. Informasi harus hadir lebih cepat, lebih jelas, dan mudah dipahami masyarakat,” katanya.

Ia mendorong Dinas Kesehatan Jawa Timur berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, Puskesmas, dan laboratorium kesehatan untuk memantau perkembangan kasus secara berkala.

Terlebih, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Nomor PM.03.01/C/584/2026 tentang penanggulangan Influenza A(H3N2) subclade K. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa aktivitas influenza musiman mengalami peningkatan secara global dan dalam beberapa bulan terakhir didominasi subtipe A(H3N2).

Data surveilans Kementerian Kesehatan yang diperbarui 12 September 2026 juga menunjukkan bahwa influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi, dengan Jawa Timur termasuk provinsi dengan proporsi sebaran tertinggi dalam laporan tersebut. Data minggu ke-35 mencatat 66 spesimen positif influenza dari 175 spesimen yang diperiksa, terdiri atas dua A(H3N2), 63 A(H1N1)pdm09, dan satu influenza B Victoria.

“Data ini harus menjadi dasar kewaspadaan pemerintah, bukan alasan untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Kita membutuhkan kesiapsiagaan sistem kesehatan, bukan kepanikan publik,” tegas anggota DPRD dapil IX Ponorogo, Ngawi, Magetan, Trenggalek, dan Pacitan.

Dinkes Diminta Perkuat Edukasi

Suli Da’im meminta Dinkes Jatim segera memperluas edukasi mengenai influenza, khususnya melalui Puskesmas, sekolah, rumah sakit, media massa, dan kanal resmi pemerintah.

Menurutnya, masyarakat perlu diberikan informasi sederhana mengenai gejala influenza, cara penularan, kelompok yang rentan mengalami komplikasi, serta kapan seseorang harus mendapatkan pertolongan medis.

Istilah “super flu”, lanjutnya, juga perlu dijelaskan secara benar agar tidak menimbulkan persepsi bahwa telah muncul penyakit baru yang otomatis lebih berbahaya. BB Labkesmas Makassar menjelaskan bahwa “superflu” merupakan istilah populer yang merujuk pada peningkatan kasus influenza, termasuk Influenza A(H3N2) subclade K, dan bukan nama penyakit baru secara resmi.

“Masyarakat perlu mendapatkan penjelasan bahwa istilah ‘super flu’ jangan langsung dimaknai sebagai penyakit baru atau sesuatu yang pasti lebih berbahaya. Yang diperlukan adalah memahami gejala, mencegah penularan, dan segera mendapatkan pelayanan ketika kondisi memburuk,” ujar Suli Da’im saat ditemui di sela-sela sidang Paripurna DPRD Jatim.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan sabun, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di fasilitas kesehatan, serta menghindari aktivitas di tempat ramai ketika mengalami gejala.

Perhatian khusus, lanjutnya, perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu, karena kelompok tersebut dapat memiliki risiko komplikasi yang lebih besar.

“Kalau sedang sakit, jangan memaksakan diri beraktivitas dan jangan sampai menularkan kepada orang lain. Kalau muncul gejala berat seperti sesak napas atau kondisi semakin lemah, segera periksa ke fasilitas kesehatan.”

Rumah Sakit Harus Dipastikan Siap

Sebagai Anggota Komisi E DPRD Jatim, Suli Da’im juga meminta pemerintah memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.

Menurutnya, pemantauan tidak cukup hanya melihat jumlah kasus influenza, tetapi juga harus mencakup ketersediaan tempat tidur, kapasitas IGD, ruang perawatan anak, tenaga kesehatan, obat-obatan, serta kemampuan laboratorium melakukan pemeriksaan.

“Kita tidak boleh menunggu rumah sakit penuh baru bergerak. Sistem deteksi dini dan surveilans harus berjalan. Kalau ada peningkatan pasien, pemerintah harus cepat mengetahui penyebabnya dan memastikan kapasitas pelayanan tetap aman.”

Ia menegaskan, Komisi E DPRD Jawa Timur akan terus memperhatikan perkembangan persoalan tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat di Jawa Timur.

“Sekali lagi, pesan saya kepada masyarakat: jangan panik, tetapi tetap waspada. Jangan percaya begitu saja pada informasi yang beredar di media sosial. Cari informasi dari sumber resmi dan tenaga kesehatan. Pemerintah harus sigap memberikan edukasi, rumah sakit harus siap memberikan pelayanan, dan masyarakat harus bersama-sama menjaga kesehatan," pungkasnya.

“Ketenangan masyarakat harus dibangun dengan informasi yang benar. Jangan sampai kekhawatiran berkembang lebih cepat daripada virusnya,” pungkas Suli Da’im. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.