Menu
Pencarian

Menikmati Pelangi 100 Alumni Sukses ITS

Portaljtv.com - Jumat, 15 Mei 2026 14:00
Menikmati Pelangi 100 Alumni Sukses ITS
Bambang Sadono menyerahkan buku berjudul 100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater kepada Rektor ITS Bambang Pramujati. (Foto: dok pribadi)

Buku ini ibarat paket hemat 100 mentor. Tentu saja tidak sedetail biografi tunggal, tapi cukup untuk memberi kita (pembaca) 100 cara berbeda menjadi kebanggaan almamater. Sekali baca, langsung mendapat benang merah: anak ITS bisa sukses di jalur mana saja.

Dari galangan kapal sampai ke Senayan, dari ruang kelas teknik elektro sampai ke kursi kabinet. Apa persamaan direktur utama Pertamina, anggota DPR RI, petinggi BUMN/BUMD, hingga pendiri start-up unicorn besar? Jawabannya: almamater biru, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Buku 100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater ini ibarat paket hemat 100 mentor. Sekali baca, pembaca diajak menelusuri (antara lain) jejak Hermawan Kartajaya yang dropout teknik tapi jadi begawan pemasaran (marketing), Prof Mohammad Nuh yang dari laboratorium elektro ke kursi kabinet, hingga Rektor ITS Prof Bambang Pramujati yang memburu predikat kampus 500 besar dunia lewat dana abadi.

Buku yang disunting wartawan senior dan mantan legislator Senayan Bambang Sadono ini bukan album wisuda. Sebanyak 100 tokoh dikurasi dari berbagai generasi. Latar mereka sengaja dibuat pelangi (baca: beragam). Ada (mantan) anggota kabinet, anggota DPR RI, petinggi BUMN/BUMD, hingga pendiri start-up kondang. Terdapat pula pengusaha, akademisi, pimpinan perguruan tinggi negeri atau swasta top, hingga pemimpin redaksi media massa berskala nasional.

Gambaran Umum Isi:

Buku yang diterbitkan PT Citra Almamater Baru ini mengulas kisah sukses alumni hingga meraih capaian saat ini. Juga memaparkan pemikiran, ide, gagasan, dan solusi mereka atas problem yang terjadi di lingkungan tempat berkecimpung. Misalnya kisah sukses Dwi Soetjipto yang kariernya sempat bergerak perlahan, tapi konsisten menanjak. Puncak kariernya di BUMN energi diraih ketika ditunjuk sebagai direktur utama PT Pertamina (Persero) pada 2014.

Tak lupa, tokoh-tokoh sukses tersebut juga menitipkan pesan untuk adik-adik mahasiswa (ITS khususnya). Misalnya Agung Prasetyo Utomo yang mendorong mahasiswa ITS berani mengambil risiko berkarier di luar negeri. Pengalaman luar negeri dapat membangun karakter, memperluas jaringan, dan menjadi semangat baru yang bermanfaat bagi Indonesia, tutur founder Juara Group itu.

Keunggulan dan Kelemahan

Keunggulan utama buku ini terletak pada konsepnya yang paket hemat belajar kepemimpinan. Bayangkan: sekali beli, pembaca mendapatkan ilmu dari 100 mentor. Semua alumni ITS itu, berbagi potongan kisah terbaiknya dalam satu buku. Seluruhnya bisa dibaca tanpa perlu berurutan dari halaman awal.

Tentu porsinya tidak akan sekenyang membaca biografi 300 halaman yang khusus mengupas satu tokoh. Tapi, justru di situlah terletak kekuatannya: efisien dan kaya perspektif. Tidak membosankan. Dalam 764 halaman, pembaca diajak melihat bagaimana slogan Advancing Humanity (Memajukan Kemanusiaan) ITS bekerja di bidang yang berbeda-beda.

Sejatinya cukup sulit mendapati kelemahan buku ini. Namun, yang paling mudah ditemukan: dari segi kebahasaan. Buku ini masih menyisakan cukup banyak pekerjaan rumah. Memang secara umum penggunaan bahasa ala jurnalistik sudah cukup baik. Bahasanya resmi, tapi mengalir dan tidak kaku. Namun, tetap ada beberapa catatan kesalahan yang cukup mengganggu.

Pertama, kesalahan ketik. Masih cukup banyak salah ketik dan ejaan yang berpotensi mengurangi kenyamanan membaca. Bahkan, kesalahan ketik (tipografi) itu sudah muncul di halaman awal Pengantar Penyunting : Persatan Wartawan Indonesia (seharusnya Persatuan Wartawan Indonesia).

Kedua, masifnya penggunaan huruf kapital (termasuk dalam penulisan judul) dan huruf miring yang tidak tepat. Misalnya, kata platform seharusnya ditulis tegak karena sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, tapi dimiringkan (hlm 75). Ada pula kekurangtelitian lewat kemunculan dua nama yang berbeda, misalnya, padahal mengacu orang yang sama: Dwi Soetjipto yang muncul bersamaan dengan Dwi Sutjipto (hlm 221-222).

Untuk buku yang mengusung nama besar ITS, kesalahan elementer semacam itu semestinya bisa ditiadakan lewat proses proofreading yang lebih ketat. Akan sayang sekali jika kisah 100 alumni inspiratif ini terganggu kesalahan teknis yang sebenarnya bisa dihindari. Edisi revisi atau cetak ulang layak mempertimbangkan keterlibatan editor khusus bahasa yang lebih teliti agar kebanggaan almamater juga tecermin dari mutu kebahasaan bukunya.

Untuk Siapa?

Akhirnya, 1 buku 100 pintu inspirasi. Buku ini wajib dibaca oleh tiga kelompok. 1) Mahasiswa teknik (khususnya ITS) yang lagi galau kuliah teknik kok susah amat dan sedang butuh role model instan, 2) orang tua yang ingin anaknya melihat banyak pilihan jalan sukses, dan 3) siapa pun yang percaya bahwa belajar dari pengalaman orang lain adalah jalan pintas paling cerdas.

Menarik ditunggu kemungkinan lahirnya jilid ke-2, misalnya: 100 Alumni ITS Penjaga Tapal Batas dengan penulisan yang lebih sempurna. Sebab, kebanggaan almamater bukan hanya didapat saat alumninya duduk di kursi empuk direktur BUMN atau perusahaan swasta besar, tapi juga saat Memajukan Kemanusiaan ketika tak ada kamera yang menyorotnya. Di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar tanah air tercinta. Semoga. (*/kim)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.