Kondisi medis langka bernama Trimethylaminuria atau fish odor syndrome menyebabkan penderitanya memiliki bau badan yang sangat kuat meskipun telah menjaga kebersihan diri. Bau tersebut kerap digambarkan menyerupai ikan busuk dan dapat muncul dari keringat, napas, urin, hingga cairan tubuh lainnya.
Secara ilmiah, kondisi ini terjadi akibat gangguan dalam proses metabolisme senyawa berbau yang dihasilkan tubuh. Normalnya, senyawa trimetilamina (TMA) yang berasal dari pencernaan makanan tinggi kolin dan nitrogen akan diubah di hati menjadi bentuk yang tidak berbau.
Praktisi kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama mengungkapkan, proses ini melibatkan enzim penting yang dikenal sebagai FMO3. Namun, pada penderita trimethylaminuria, enzim tersebut tidak berfungsi dengan baik, sehingga TMA menumpuk dan dikeluarkan melalui tubuh.
"Ada penelitian yang menegaskan bahwa mutasi pada FM03 ini mengganggu jalur metabolisme TMA secara signifikan yang mengakibatkan kadar TMA penderita 10 kali hingga 50 kali lebih tinggi dari normal, sehingga bau yang keluar sangat kuat dan khas seperti ikan busuk,” jelasnya.
Meski tidak berbahaya secara fisik, kondisi ini dapat memberikan dampak psikologis yang serius. Berbagai studi menunjukkan bahwa lebih dari 70% penderita mengalami penurunan kualitas hidup, kecemasan sosial, hingga depresi akibat stigma yang muncul di lingkungan sekitar. Penderita kerap dianggap tidak menjaga kebersihan, padahal kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan metabolisme.
Beberapa faktor diketahui dapat memperparah gejala, seperti konsumsi makanan tinggi kolin, di antaranya seafood, telur, hati, dan kacang-kacangan, serta kondisi stres. Meski tidak dapat disembuhkan secara total karena bersifat genetik, pengelolaan pola makan dan gaya hidup dapat membantu mengurangi intensitas bau yang muncul.
“Tips simpel pertama adalah diet rendah TMA dan kolin, yang kedua biasanya perut butuh tambahan antibiotik dengan dosis rendah seperti metronidazole atau neomycin untuk menekan bakteri penghasil TMA, yang ketiga aktivated charcoal yang membantu mengikat TMA di usus dan yang keempat gunakan sabun mandi yang punya PH seimbang untuk mengurangi pelepasan TMA via kulit dan yang terakhir konseling, karena dukungan secara mental sangat penting untuk menghindari setres,” terang dr. Aditya.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ini, diharapkan masyarakat dapat mengurangi stigma terhadap penderita dan lebih melihatnya sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan dan dukungan. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















