Menu
Pencarian

Kartini di Era Media Sosial: Antara Panggung Pemberdayaan dan Tekanan Psikologis

Kartini di Era Media Sosial: Antara Panggung Pemberdayaan dan Tekanan Psikologis
Dr. Bawinda S. Lestari, S.H., M.Psi., CPS., Cht.

Setiap April, kita kembali mengingat tokoh perempuan yang luar biasa Raden Ajeng Kartini, simbol perjuangan perempuan untuk merdeka berpikir, bersuara di ruang publik. Kala itu, akses pendidikan dan kebebasan berekspresi perempuan sangat terbatas.

Melalui surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Kartini, 1911), Kartini menyuarakan harapannya agar perempuan mendapat kesempatan yang setara untuk berkembang serta berkontribusi bagi masyarakat.

Kini perempuan hidup di tengah kemajuan teknologi digital, ruang baru dan kehidupan sosial baru, semua itu tidak lepas dari perjuangan Raden Ajeng Kartini. Hadirnya media sosial bukan sekedar warna baru, tetapi media sosial menjadi ruang baru bagi perempuan, untuk mengekspresikan diri, berbagi ide, membangun jaringan, juga membuka peluang ekonomi melalui berbagai platform digital.

Dalam perspektif teori masyarakat jaringan (networking society), Manuel Castells (2010) mengungkapkan digital telah menciptakan ruang komunikasi baru, yang dapat digunakan oleh individu untuk berpartipasi dalam kehidupan sosial secara lebih luas tanpa batas ruang dan waktu.

Ibarat gayung bersambut, keberadaan media sosial bagi banyak perempuan membuka cakrawala baru, peluang untuk berkarya, jejaring komunitas, serta menyuarakan hak-hak perempuan dengan berbagai isu sosialnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital dapat dijadikan sebagai wahana baru kebebasan berekspresi yang dulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini.

Fenomena baru ini juga membawa perubahan baru terhadap perilaku bermedia sosial pada perempuan. Dibalik peluang ada tantangan yang tidak bisa disepelekan. Ruang digital tidak sepenuhnya aman dan memberdayakan perempuan.

Berbagai fenomena kini mewarnai perilaku dan cara pandang perempuan terhadap dirinya dan orang lain, seperti standart kecantikan yang tidak realistis, body shaming, komentar negatif, hingga fenomena fear of missing out (FOMO). Misalnya standart kecantikan, kini perempuan memandang kecantikan dari apa yang terlihat bagus dan sempurna, bahkan tidak jarang membanding-banding dirinya dengan idolanya, atau artis-artis dalam negeri maupun luar negeri.

Ketika standart yang ditetapkan tidak sesuai harapan, atau merasa tertinggal dengan orang lain yang tampak lebih menarik atau menyenangkan, maka kecemasan, keresahan mendera diri perempuan. Hal ini seperti yang diutarakan oleh (Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell, 2013) bahwa seseorang akan mengalami kecemasan ketika merasa tidak sejajar atau tertinggal dari lainnya, baik dari penampilan atau pengalaman orang lain yang kelihatan lebih menarik atau menyenangkan daripada dirinya.

Paparan media sosial yang terlihat sempurna, kehidupan orang lain yang tampak menyenangkan dan bahagia, memunculkan perasaan resah, kurang menarik, atau kurang sukses dibandingkan dengan orang lain. Berdasarkan perspektif psikologi sosial, Leon Festinger (1954) dalam teorinya social comparison theory menjelaskan bahwa seseorang memiliki kecenderungan alami untuk menilai dirinya, mengevaluasi, membandingkan dirinya dengan orang lain.

Karena tidak berdasarkan standar objektif, maka seseorang akan membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cermin sosial. Maksudnya kita tahu diri kita “baik atau tidak”, “sukses atau tidak”, “cantik atau tidak’, seringkali bukan dari standar mutlak, tetapi dari membandingkan diri dengan orang lain di sekitar kita. Manusia adalah makhluk sosial, maka identitas dirinya banyak dibentuk melalui interaksi dan perbandingan sosial.

Di era digital fenomenan membandingkan diri dengan orang lain semakin kuat, misalnya perempuan melihat temanya sering posting liburan ke luar negeri, perasaannya mulai hidupnya stagnan atau biasa saja dibanding temannya, padahal sebelumnya baik-baik saja. Ini contoh nyata social comparison yang memengaruhi kesejahteraan psikologis perempuan.

Pada konteks media sosial, proses perbandingan sosial (social comparison) menjadi semakin intens, karena seseorang terus-menerus terpapar materi-materi yang tampak ideal dan sempurna. Padahal kenyataan sebenarnya belum tentu sesuai dengan apa yang dilihat. Berdasarkan penelitian dari Vogel, Rose, Roberts, dan Eckles (2014) bahwa penggunaan media sosial yang tinggi dapat meningkatkan kecenderungan melakukan perbandingan sosial yang berdampak pada penurunan harga diri (self-esteem).

Fenomena ini juga sejalan dengan teori self-discrepancy theory oleh Edward Tory Higgins (1987). Dijelaskan bahwa seseorang dapat mengalami tekanan psikologis ketika mengalami kesenjangan antara diri aktual (actual self) dan diri ideal (ideal self). Disinilah keberadaan media sosial seringkali menampilkan standar kehidupan yang sangat ideal bahkan sempurna, sehingga memunculkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, ketika seseorang membandingkan dirinya dengan standar tersebut.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh royal society for public healt (2017), yang dilaporkan oleh status of mind: social media and young people’s mental healt and wellbeing menunjukkan bahwa media sosial memiliki hubungan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, serta rendahnya kepercayaan diri pada remaja, khususnya perempuan. Tayangan terhadap citra kehidupan yang tampak ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial yang berdampak pada kesehatan mental.

Sedangkan menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari dalam mengakses media sosial. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi ini meningkatkan peluang terjadinya perbandingan sosial, terutama terkait penampilan fisik dan gaya hidup.

Melengkapi bahasan ini, laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA, 2023) menunjukkan bahwa perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami kekerasan berbasis gender di ruang digital, seperti pelecehan verbal, komentar merendahkan, hingga body shaming.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital persoalan perempuan bukan lagi semata-mata tentang keterbatasan akses ke ruang publik, tetapi bagaimana perempuan mampu menghadapi tekanan sosial yang justru muncul di ruang yang tampak bebas ini. Harapannya media sosial menjadi sarana pemberdayaan perempuan, menjadi ruang yang memberi manfaat sosial baru, dan pemikiran serta tindakan yang realistis bagi perempuan.

Di hari Kartini ini, menjadi momentum yang tepat, kita refleksikan kembali peran media sosial dalam kehidupan perempuan masa kini. Pada era Kartini perempuan berjuang untuk mendapatkan akses pendidikan dan kebebasan berpikir, saat ini perempuan menghadapi tantangan baru dalam ruang yang serba canggih yaitu ruang digital. Kebebasan untuk berekspresi memang semakin terbuka, tetapi kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk menggunakan media sosial secara bijak.

Pemikiran Kartini sendiri mengajarkan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya berkaitan dengan membuka akses terhadap pendidikan dan ruang publik, tetapi juga berkaitan dengan kekuatan batin (inner strength) dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Perspektif ini sejalan dengan konsep psychological empowerment yang dijelaskan oleh Zimmerman (1995), yaitu kemampuan seseorang untuk memiliki kontrol terhadap kehidupannya, memahami lingkungan sosialnya, serta mengambil tindakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Oleh karena itu, penting untuk membangun ruang digital yang lebih sehat dan aman bagi perempuan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan literasi digital serta kesadaran kritis dalam menggunakan media sosial. Perempuan perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali merupakan realitas yang telah dipilih dan dikonstruksi, sehingga tidak selalu mencerminkan kehidupan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, media sosial bukan sekadar teknologi komunikasi, melainkan ruang sosial baru yang membentuk cara seseorang memandang dirinya dan orang lain. Dalam semangat perjuangan Kartini, perempuan masa kini diharapkan mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat potensi diri, menyuarakan gagasan, serta membangun solidaritas.

Melanjutkan semangat Kartini di era digital berarti memastikan bahwa kebebasan berekspresi juga menjadi ruang yang menumbuhkan keberanian, kesehatan mental, dan martabat perempuan.

Penulis:

Dr. Bawinda S. Lestari, S.H., M.Psi., CPS., Cht

Dosen Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Praktisi Psikologi & Komunikasi

Self Development Expert

IG @itsbawinda

Daftar Pustaka

APJII. (2023). Laporan Survei Internet APJII 2023. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Oxford: Blackwell Publishing.

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140.

Higgins, E. T. (1987). Self-Discrepancy: A Theory Relating Self and Affect. Psychological Review, 94(3), 319–340.

Kartini, R. A. (1911). Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Den Haag: Van Hoeve.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2023). Laporan Kekerasan Berbasis Gender Online di Indonesia. Jakarta: KemenPPPA.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Royal Society for Public Health. (2017). Status of Mind: Social Media and Young People's Mental Health and Wellbeing. London.

Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social Comparison, Social Media, and Self-Esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222.

Zimmerman, M. A. (1995). Psychological Empowerment: Issues and Illustrations. American Journal of Community Psychology, 23(5), 581–599.

Editor : M Fakhrurrozi





Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.