Industri perkapalan memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas transportasi laut di Jawa Timur. Dalam program diskusi “Dialog Khusus” yang tayang di JTV pada Senin (27/04/26), Surabaya sebagai salah satu pusat industri maritim nasional dan kawasan sekitarnya menjadi episentrum aktivitas galangan kapal, perawatan armada, hingga distribusi logistik menuju wilayah Indonesia Timur. Kondisi ini menjadikan Jawa Timur memegang tanggung jawab besar dalam menjaga kelancaran arus barang dan penumpang melalui jalur laut.
Ketua Umum DPP IPERINDO, Anita Puji Utami, menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar karena tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi pusat perawatan kapal dari wilayah timur Indonesia. Menurutnya, banyak kapal dari kawasan timur harus melakukan docking di Jawa karena fasilitas galangan di daerah asal masih terbatas. Ia menegaskan,
“Keberadaan galangan kapal ini sangat penting dan harus terus dikembangkan demi mendukung keselamatan serta kelancaran logistik nasional.”
Namun, industri ini masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari ketergantungan impor komponen kapal, kenaikan harga bahan bakar industri, mahalnya material produksi, hingga regulasi perizinan yang rumit. Selain itu, persoalan sedimentasi di alur pelayaran Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadi hambatan tersendiri bagi kapal berukuran besar yang akan bersandar.
Dari sisi operator pelayaran, PT PELNI menilai pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama. Kepala Cabang PT PELNI, Roni Abdullah, menyampaikan bahwa perusahaan terus berinovasi melalui transformasi digital. Penjualan tiket kini dilakukan secara daring melalui aplikasi Pelni Mobile, sementara sistem pelacakan kapal dilakukan secara real time. Ia menyebut, “Tantangan terbesar kami adalah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di tengah kebutuhan yang serba cepat dan transparan.”
Selain itu, PELNI juga menyiapkan strategi kolaborasi dengan operator swasta dan penyedia jasa pelabuhan guna meminimalkan keterlambatan sandar kapal. Dengan armada kapal penumpang, kapal perintis, dan kapal tol laut yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur disebut sebagai barometer operasional Pelni secara nasional.
Kalangan akademisi turut menyoroti pentingnya pemerataan fasilitas galangan kapal di luar Pulau Jawa. Ketua STIAMAK Barunawati Surabaya, Gugus Wijonarko, menilai biaya operasional akan jauh lebih efisien jika fasilitas docking juga tersedia di kawasan Indonesia Timur.
“Tujuan kita sama, yaitu membangun konektivitas yang efisien dan menekan biaya logistik nasional.” ujar Gugus.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, industri, operator pelayaran, dan perguruan tinggi dinilai menjadi kunci penguatan sektor maritim nasional. Dengan sinergi yang baik, Jawa Timur berpotensi terus menjadi motor penggerak industri perkapalan sekaligus pusat konektivitas transportasi laut Indonesia. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe

















