PROBOLINGGO - Masyarakat Suku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo tidak hanya menjaga budaya dan adat istiadatnya, tetapi juga mempertahankan warisan leluhur. Salah satunya rumah adat tradisional yang hingga kini masih berdiri kokoh.
Rumah-rumah adat khas Tengger masih banyak ditemukan di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Di sepanjang jalur menuju kawasan wisata Gunung Bromo, deretan rumah kayu berciri khas Tengger masih tampak berdiri, meski sebagian sudah mengalami pemugaran.
Salah satu rumah adat yang masih terjaga milik Suhartina, 89 tahun. Rumah yang berada di sebuah gang di Desa Ngadisari itu disebut telah berusia lebih dari 200 tahun dan sebagian besar bangunannya masih menggunakan material kayu asli.
“Rumah ini warisan dari leluhur, khususnya dari leluhur suami saya. Sudah lama sekali berdirinya, mungkin lebih dari dua ratus tahun. Dulu semuanya kayu,” ujar Suhartina saat ditemui di kediamannya.
Menurut Suhartina, rumah adat tersebut sempat mengalami beberapa kali pemugaran akibat faktor usia dan bencana alam. Pada tahun 2010, bagian atap rumah sempat diperbaiki setelah rusak terdampak erupsi Gunung Bromo.
“Waktu erupsi Bromo, atapnya sempat ambruk kena abu dan pasir. Akhirnya diperbaiki supaya tetap bisa ditempati,” katanya.
Meski dilakukan renovasi, Suhartina mengaku tetap mempertahankan bentuk asli rumah agar tidak kehilangan ciri khas rumah adat Tengger.
“Kami tidak mau merubah bentuk aslinya. Tiang kayu dan susunan ruangnya tetap dipertahankan seperti dulu,” imbuhnya.
Rumah adat Tengger memiliki tiga ruangan utama dengan fungsi berbeda. Bagian pertama disebut “padhayohan” yang digunakan sebagai ruang tamu. Kemudian “peturon” sebagai kamar tidur, dan “pawon” atau “pedharingan” yang berfungsi sebagai dapur sekaligus tempat perapian.
“Kalau malam dingin sekali di sini, jadi biasanya keluarga berkumpul di pawon sambil menghangatkan badan,” ujar Suhartina.
Suhu kawasan Bromo yang berada di ketinggian sekitar dua ribu meter di atas permukaan laut membuat keberadaan tungku tradisional di dalam rumah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Tengger.
Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, mengatakan rumah adat Tengger bukan hanya tempat tinggal, melainkan simbol budaya yang harus dijaga keberadaannya.
“Rumah adat ini bagian dari identitas masyarakat Tengger. Meski zaman berubah, masyarakat di sini tetap berusaha mempertahankan bentuk dan nilai budayanya,” kata Sunaryono.
Ia menambahkan, sebagian warga memang melakukan renovasi agar rumah lebih nyaman ditempati. Namun bentuk dasar bangunan dan konsep ruangan tetap dipertahankan.
“Biasanya yang diperbaiki hanya bagian tertentu seperti atap atau lantai. Tetapi bentuk utama rumah tidak diubah,” jelasnya.
Menurut Sunaryono, keberadaan rumah adat Tengger juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke kawasan Bromo.
“Banyak wisatawan penasaran melihat langsung rumah adat Tengger. Tidak sedikit yang datang ke perkampungan warga untuk melihat budaya masyarakat di sini,” ujarnya.
Masyarakat Tengger memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kalau bukan kami yang menjaga, nanti generasi berikutnya tidak tahu bentuk rumah adat asli Tengger seperti apa,” katanya.
Selain mempertahankan bangunan rumah, masyarakat Tengger juga masih menjaga tradisi hidup sederhana dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
“Rumah adat ini bukan sekadar bangunan, tapi ada nilai kekeluargaan dan adat yang tetap dijaga sampai sekarang,” tuturnya.
Keberadaan rumah adat Tengger yang masih bertahan di tengah modernisasi menjadi bukti kuatnya masyarakat Tengger dalam menjaga identitas budaya mereka. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bromo, melihat langsung perkampungan adat Tengger menjadi pengalaman tersendiri untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat lereng gunung yang kaya tradisi tersebut. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















