Menu
Pencarian

Menelusuri Akar Sejarah Nastar: Dari Diplomasi Priyayi hingga Kue Wajib Lebaran

Portaljtv.com - Rabu, 11 Maret 2026 11:29
Menelusuri Akar Sejarah Nastar: Dari Diplomasi Priyayi hingga Kue Wajib Lebaran
Kue nastar isi nanas. (Foto : freepik)

SURABAYA - Menjelang hari raya yang tinggal dua pekan lagi, persiapan suguhan untuk tamu mulai dipikirkan oleh banyak orang. Di antara beragam pilihan kue kering yang tersaji, nastar hampir tidak pernah absen. Kue kuning keemasan dengan isian selai nanas ini telah menjadi simbol wajib di setiap momen Lebaran, baik sebagai suguhan di meja tamu maupun buah tangan dalam bentuk hampers.

Namun, kehadiran nastar di meja hari raya bukanlah tradisi yang lahir dari akar budaya asli Nusantara. Nama "nastar" berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas dan taart yang berarti tart nanas. Pada masa kolonial, masyarakat Hindia Belanda memodifikasi resep kue khas Eropa tersebut dengan mengganti isian stroberi, blueberry, atau apel dengan nanas yang lebih mudah ditemukan di wilayah tropis. Dari proses adaptasi inilah nastar versi lokal terbentuk dengan ukuran yang lebih kecil, praktis, dan disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.

Sejarawan kuliner dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menjelaskan bahwa kue kering seperti nastar merupakan pengaruh budaya Belanda. Pada awalnya, kue-kue tersebut identik dengan tradisi Natal di kalangan orang Belanda. Namun, dalam praktiknya, kue-kue tersebut juga menjadi bagian dari hantaran yang dikirimkan kepada kalangan bangsawan pribumi atau priyayi saat momen-momen tertentu, termasuk Lebaran.

"Di titik inilah, nastar dapat dilihat sebagai bagian dari relasi sosial pada masa kolonial. Hantaran makanan bukan hanya sekadar bentuk keramahan, tetapi juga menjadi sarana diplomasi serta peneguhan status sosial," jelas Fadly.

Baca Juga :   Menelusuri Akar Sejarah Nastar: Dari Diplomasi Priyayi hingga Kue Wajib Lebaran

Seiring berjalannya waktu, nastar tidak lagi menjadi konsumsi eksklusif bagi kalangan tertentu. Kue ini bertransformasi menjadi penganan yang hadir dalam berbagai perayaan lintas agama dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Kini, warisan yang dulunya hanya beredar di kalangan priyayi tersebut telah menjelma menjadi budaya populer yang hampir selalu tersedia di setiap rumah saat hari raya tiba. (Luluk Listiani)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.