Menyaksikan jemari mungil seorang anak kelas II Sekolah Dasar (SD) berselancar dengan begitu lincah di atas layar HP atau tablet adalah pemandangan yang mengagumkan, sekaligus mencemaskan. Sebuah ironi modern ketika generasi hari ini jauh lebih mahir menggeser layar resolusi tinggi daripada menggenggam sebatang pensil kayu di atas kertas.
Belakangan ini, digitalisasi sekolah dasar kerap diglorifikasi sebagai indikator kemajuan sebuah lembaga pendidikan. Sekolah yang membekali siswanya dengan gawai atau menerapkan buku teks digital dianggap selangkah lebih maju menjemput masa depan. Namun, di balik riuh rendah label “sekolah modern” tersebut, ada persoalan mendasar yang luput dari perhatian: erosi kemampuan motorik halus dan hilangnya fondasi belajar yang paling alami pada anak-anak.
Persoalan ini bukan sekadar masalah estetika tulisan tangan yang berantakan. Ini adalah alarm tentang bagaimana disrupsi teknologi mulai mengintervensi tahapan tumbuh kembang anak pada usia emas mereka. Ketika aktivitas fisik menulis digantikan oleh gerakan mengetuk dan menggeser layar, ada mata rantai stimulasi otak yang berisiko terputus.
Secara ilmiah, menulis dengan pensil bukan sekadar aktivitas mekanis memindahkan huruf ke kertas. Studi neurosains menunjukkan bahwa menulis dengan tangan melibatkan jaringan otak yang jauh lebih kompleks dibandingkan mengetik atau menggeser layar. Menulis dengan tangan dapat mengaktifkan wilayah reticular activating system (RAS) di otak yang berfungsi menyaring informasi dan memperkuat memori jangka panjang.
Baca Juga : Menekan Adiksi Digital Melalui Smart Box
Saat seorang anak kelas II SD menekan pensil, merasakan tekstur kertas, dan mengontrol arah gerakan tangan, mereka sedang melatih koordinasi visual-motorik yang krusial bagi perkembangan kognitifnya. Sebaliknya, paparan layar digital yang berlebihan dan instan justru berkorelasi negatif dengan kemampuan konsentrasi. Riset psikologi anak secara konsisten mengingatkan bahwa rentang fokus anak yang terlalu dini akrab dengan gawai cenderung menyusut. Mereka menjadi cepat bosan karena terbiasa dengan stimulasi visual gawai yang bergerak cepat, sesuatu yang tidak mereka temukan pada buku teks biasa atau penjelasan guru di papan tulis.
Kita tentu tidak bisa dan tidak boleh bersikap menolak teknologi. Menolak digitalisasi di era ini adalah langkah utopis. Gagasan utamanya bukan membuang HP atau tablet dari ruang kelas, melainkan menerapkan “digitalisasi hibrida yang berpembatas”.
Sekolah dasar harus memiliki regulasi internal yang ketat mengenai porsi penggunaan teknologi. Pertama, gawai hanya boleh diletakkan di atas meja jika materi pelajaran hari itu memang membutuhkan visualisasi 3D atau simulasi interaktif yang tidak bisa diakomodasi oleh buku cetak.
Baca Juga : Ketika AI Mempercepat Jawaban, Guru Menjaga Proses Berpikir
Kedua, porsi aktivitas digital di kelas rendah, yakni kelas I–III SD, idealnya tidak boleh melebihi 20–30 persen dari total jam pelajaran. Sisanya, ruang kelas harus dikembalikan pada hakikatnya: tempat anak-anak merobek kertas, memegang pensil, mewarnai, menggunting, berkeringat saat bermain, dan saling bertatapan muka. Teknologi harus diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti kurikulum motorik dasar.
Digitalisasi pembelajaran pada tingkat sekolah dasar membutuhkan kearifan, bukan sekadar kecepatan adopsi. Teknologi di ruang kelas adalah pelayan yang sangat baik untuk mempermudah pemahaman, tetapi ia dapat menjadi tuan yang sangat buruk jika sampai mendikte seluruh aktivitas anak.
Kita tentu ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang melek teknologi dan siap bersaing di masa depan. Namun, kita tidak boleh menukarnya dengan kebahagiaan masa kecil yang autentik, kelincahan fisik, dan ketajaman fokus mereka. Sebelum kita mengajari mereka coding atau cara berselancar di dunia maya, pastikan jemari kecil mereka sudah cukup kuat dan kokoh untuk menuliskan cita-citanya sendiri di atas lembar kertas kehidupan yang nyata. (*)
Baca Juga : TKA Memerah, Sistem Pengembangan Kompetensi Guru Harus Berbenah
Oleh: Anita Berti, S.S., Guru SD Santa Maria Surabaya
Editor : Iwan Iwe



















