KEDIRI - Halaman gedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo mendadak khidmat di bawah terik matahari yang menyengat. Ratusan santri bersama warga setempat bahu-membahu menggelar salat sunah istisqa atau salat minta hujan untuk mengatasi kemarau panjang yang melanda wilayah Kota Kediri, Sabtu.
Ibadah massal ini menjadi ikhtiar batin masyarakat dan pihak pesantren setelah musim kemarau ekstrem menimbulkan dampak serius. Tidak hanya memicu ancaman kebakaran hutan dan lahan, krisis air bersih juga mulai dirasakan langsung di lingkungan pondok pesantren dan perkampungan sekitar.
Pengurus pondok menyebutkan bahwa dampak kemarau panjang membuat debit air pada sumur pompa di lingkungan warga dan ponpes mengalami penyusutan drastis. Kondisi ini memaksa warga dan pihak pesantren harus menggali sumur jauh lebih dalam demi mendapatkan cadangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
"Tak hanya kekeringan, kebakaran hutan dan lahan juga membayangi wilayah Kota Kediri sejak kemarau panjang," ujar juru bicara Ponpes Lirboyo, Abdul Muid Shohib.
Baca Juga : Krisis Air Menghadang, Ratusan Santri Lirboyo Gelar Salat Istisqa
Menanggapi situasi darurat ini, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati turut hadir dan meminta kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama agar tidak membakar sampah sembarangan yang berpotensi memicu titik api baru di tengah cuaca kering.
Vinanda berharap rangkaian ikhtiar lahir dan batin yang dilakukan bersama para santri serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah atau Forkopimda ini bisa segera membuahkan hasil berupa turunnya hujan di Kota Kediri.
"Doa santri dan Forkopimda Kota Kediri ini menjadi harapan masyarakat agar bencana kekeringan segera teratasi melalui hujan," pungkas Vinanda. (Beny Kurniawan)
Editor : JTV Kediri



















