PROBOLINGGO - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat memperkuat gerakan pelestarian lingkungan melalui aksi penanaman mangrove. Bersama Wali Kota Probolinggo Aminuddin, Bupati Probolinggo Muhammad Haris, musisi Kaka Slank, serta masyarakat, Khofifah menanam sebanyak 8.100 bibit mangrove dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 Tahun 2026 di Bee Jay Bakau Resort, Kota Probolinggo, Selasa (3/11/2026).
Mengusung tema Mangrove Lestari, Masyarakat Sejahtera, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pesisir sekaligus mengampanyekan gerakan sedekah oksigen. Konsistensi penyelenggaraan festival sejak 2022 juga mengantarkan Jawa Timur meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Festival Mangrove secara Seri Terbanyak dalam Waktu Lima Tahun.
Penanaman mangrove melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, Kelompok Tani Hutan, komunitas lingkungan, hingga mitra pembangunan. Selain penanaman bibit mangrove, kegiatan rehabilitasi ekosistem pesisir juga ditandai dengan pelepasliaran enam ekor burung pecuk padi hitam dan 300 ekor kepiting.
Khofifah mengatakan, pelestarian mangrove merupakan langkah strategis dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir. Menurutnya, gerakan sedekah oksigen tidak sekadar menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga investasi ekologis jangka panjang.
Baca Juga : Hujan Deras Tak Halangi 40 Ribu Slankers, Konser Penutup HS Hey Slank di Banyuwangi Pecah
"Ini adalah cara kita memperkuat ketahanan kawasan pesisir sekaligus investasi ekologis jangka panjang. Karena selagi yang ditanam tumbuh dan bisa menyerap karbon dioksida serta menghasilkan oksigen, maka saat itu kita bersedekah oksigen," ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, hutan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menyerap karbon dioksida, mangrove juga berfungsi melindungi kawasan pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai biota laut, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Luas Mangrove Jawa Timur Meningkat
Baca Juga : Jelang Konser HS Hey Slank, Kaka Pimpin Ratusan Riders Konvoi Keliling Banyuwangi
Khofifah menyebutkan, upaya pelestarian mangrove di Jawa Timur menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas ekosistem mangrove eksisting di Jawa Timur mencapai 31.067 hektare. Angka tersebut meningkat 3.846 hektare dibandingkan kondisi pada 2021 yang tercatat seluas 27.221 hektare.
Menurutnya, peningkatan luasan tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pelestarian dan rehabilitasi yang perlu terus dijaga keberlanjutannya. Festival Mangrove Jawa Timur juga menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam memperkuat perlindungan ekosistem pesisir.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat seluruh pihak cepat berpuas diri. Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup hanya diukur dari luas kawasan atau banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga harus memperhatikan kualitas ekosistem dan tingkat keberhasilan pertumbuhannya.
Baca Juga : Tutup Tur 10 Kota di Banyuwangi, Slank dan HS Sepakat Buka Lapangan Kerja di Tengah Ekonomi Lesu
"Rehabilitasi harus dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian lokasi, pemilihan jenis tanaman, kondisi lingkungan, serta pemeliharaan dan pemantauan pascatanam. Dengan demikian, kita dapat memastikan mangrove tumbuh optimal dan fungsi ekologisnya tetap terjaga," jelasnya.

Mangrove Dukung Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru
Selain memberikan manfaat ekologis, pelestarian mangrove juga dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) di Jawa Timur.
Ekosistem mangrove yang terjaga dapat membuka peluang ekonomi melalui pengembangan perikanan berkelanjutan, ekowisata, serta berbagai usaha kreatif masyarakat pesisir.
Khofifah mencontohkan Bee Jay Bakau Resort di Kota Probolinggo yang memadukan sektor pariwisata, edukasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Model pengembangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal tanpa mengabaikan daya dukung lingkungan.
Karena itu, ia mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat, termasuk generasi muda, untuk terus memperluas rehabilitasi mangrove sekaligus meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Festival Mangrove Jatim Raih Rekor MURI
Konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menyelenggarakan Festival Mangrove sejak 2022 mendapat pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Penghargaan tersebut diberikan atas penyelenggaraan Festival Mangrove secara Seri Terbanyak dalam Waktu Lima Tahun. Capaian ini menjadi bentuk apresiasi atas keberlanjutan gerakan kolaboratif dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove.
Khofifah menyampaikan bahwa penghargaan tersebut harus menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas dan dampak program pelestarian lingkungan.
Menurutnya, keberlanjutan festival menjadi bukti bahwa agenda perlindungan mangrove dapat terus dijaga melalui kerja sama lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima penghargaan, khususnya Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank yang menerima penghargaan Jer Basuki Mawa Beya atas kontribusinya dalam mendukung pelestarian lingkungan.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam menjaga kelestarian alam.
"Saya berharap Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 semakin memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan rehabilitasi mangrove yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Mari kita pastikan bahwa mangrove yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang," pungkasnya.
Probolinggo Berpeluang Jadi Lokasi Festival Mangrove Nasional
Dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Mangrove Jawa Timur juga disampaikan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Mayjen TNI Sriyanto Muntasram.
Ia mengapresiasi konsistensi Jawa Timur dalam mengembangkan program pelestarian mangrove. Menurutnya, Jawa Timur telah menjadi salah satu daerah rujukan atau tolok ukur dalam pengelolaan mangrove.
Bahkan, kawasan Bee Jay Bakau Resort di Kota Probolinggo direncanakan untuk diusulkan sebagai lokasi penyelenggaraan Festival Mangrove tingkat nasional.
"Mangrove berdampak luar biasa bagi kehidupan," ungkapnya.
Hadirkan Inovasi dan Edukasi Lingkungan
Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 juga diisi dengan berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan masyarakat dan komunitas. Salah satunya adalah pengenalan inovasi Si Rupa Bumi atau Sistem Rumpun Pasak Bumi karya Zainur, penyuluh kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dari Kabupaten Sumenep.
Inovasi tersebut berhasil meraih Juara II Lomba Inovasi Rimbawan 2026 kategori Inovasi Individu yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan.
Selain itu, festival menghadirkan pelayanan pengobatan gratis, edukasi mangrove bagi pelajar, pameran kinerja perlindungan dan pengelolaan mangrove, hingga peragaan busana batik yang menggunakan pewarna alami dari mangrove.
Kaka Slank juga turut menyuarakan pesan pelestarian lingkungan melalui penampilan solo gitar dan keterlibatannya dalam berbagai rangkaian kegiatan festival.
Sebelum mengikuti kegiatan utama, Gubernur Khofifah bersama Kaka Slank dan rombongan melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor listrik dari Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa menuju Bee Jay Bakau Resort.
Melalui Festival Mangrove Jawa Timur ke-11, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap gerakan rehabilitasi mangrove semakin kuat dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar menanam bibit, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga mangrove berarti menjaga lingkungan, melindungi kawasan pesisir, serta mewariskan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Editor : Guntur Nara



















