TANGERANG SELATAN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mendorong percepatan riset dan pengembangan teknologi rekayasa materi berukuran super kecil atau nanoteknologi serta bahan baku canggih guna mendukung pertumbuhan industri nasional yang inovatif dan ramah lingkungan. Upaya strategis ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Seminar Internasional tentang Nanoteknologi, Bahan Nano, dan Perangkat ke-3 atau The 3rd International Seminar on Nanotechnology, Nanomaterials, and Devices (ISNND) 2026 yang berlangsung pada 26 hingga 29 Oktober 2026 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan. Forum ilmiah tingkat dunia bertema hilirisasi berwawasan lingkungan ini mempertemukan para peneliti, akademisi, pelaku industri, serta penentu kebijakan untuk memperkuat daya saing industri di masa depan.
Kepala Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN Murni Handayani menyampaikan bahwa penguasaan teknologi bahan skala kecil ini menjadi faktor kunci untuk mendukung berbagai sektor vital, seperti pemenuhan energi bersih, bidang kesehatan, pelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Penguasaan materi canggih tersebut mencakup pengembangan bahan karbon super kuat, lapisan materi super tipis, serta campuran logam khusus yang memiliki potensi besar dalam menciptakan produk industri berdaya saing tinggi. Namun, ia menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar saat ini adalah cara membawa dan mengubah hasil penemuan yang ada di dalam laboratorium menjadi produk nyata yang dapat diproduksi secara massal oleh dunia industri.
Murni Handayani menegaskan pentingnya wadah pertemuan internasional untuk memecahkan hambatan produksi tersebut. “Melalui forum yang mempertemukan akademisi, pakar karakterisasi material, pelaku industri, dan pembuat kebijakan, ISNND 2026 mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset nanoteknologi,” ujar Murni Handayani.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN Ratno Nuryadi menekankan bahwa kolaborasi riset antarlembaga sangat diperlukan guna menjawab kebutuhan dunia usaha secara cepat dan tepat. Pihaknya berharap penyelenggaraan forum ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat riset dan inovasi terdepan di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini juga selaras dengan agenda pemerintah untuk mendorong kemandirian industri dalam negeri melalui penguasaan teknologi terapan.
Ratno Nuryadi memaparkan bahwa riset lokal harus mampu dipasarkan secara luas agar memberi manfaat langsung bagi perekonomian. “Acara ini selaras dengan mandat nasional untuk melakukan komersialisasi riset lokal, meningkatkan kapabilitas industri domestik, dan mengintegrasikan laboratorium-laboratorium di Indonesia ke dalam jaringan inovasi global yang elit,” kata Ratno Nuryadi.
Pertemuan ilmiah internasional di Serpong ini menghadirkan sepuluh pakar dan pembicara utama dari dalam dan luar negeri, di antaranya peneliti dari Sunway University Malaysia, Kumamoto University Jepang, Universiti Sains Malaysia, Kasetsart University Thailand, Coventry University Inggris, University of Malaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Indonesia, serta pakar internal BRIN seperti Nurul Taufiqu Rochman dan Muhammad Adly R. Lubis. Cakupan bidang pembahasan riset melingkupi pengembangan sensor canggih, alat penyimpanan dan pengolahan energi bersih, teknologi hijau berbasis bahan alam atau biomassa, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menemukan bahan baku industri baru.
Melalui kegiatan pertemuan internasional ini, BRIN optimistis dapat memperluas jaringan kerja sama ilmiah dengan berbagai negara penyedia teknologi dunia. Sinergi yang terjalin antara lembaga riset dan pelaku industri diharapkan mampu mempercepat penerapan teknologi ramah lingkungan di tanah air, sehingga hasil karya peneliti dalam negeri dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri nasional dan pemeliharaan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Penulis : Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe



















