LUMAJANG - Salah satu wilayah yang terdampak kekeringan berada di Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang. Warga setempat selama ini mengandalkan air hujan dan saluran dari sumber mata air. Namun, saat ini kedua sumber tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa membeli air dari truk tangki dengan harga Rp130 ribu untuk 5.000 liter. Sebagian warga bahkan memilih mengambil air langsung dari sumber mata air yang berjarak sekitar lima kilometer dari desa mereka.
Warga mengaku sangat terbantu dengan adanya distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun instansi lainnya. Bantuan tersebut dinilai mampu mengurangi beban pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Selain itu, selama krisis air berlangsung, warga juga harus mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari agar persediaan air tetap mencukupi.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang kini rutin mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan. Hingga saat ini, terdapat enam desa di tiga kecamatan yang secara rutin mengajukan permohonan distribusi air bersih. Berdasarkan data BPBD Lumajang, sebanyak 19 desa di enam kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih.
Editor : JTV Jember



















