Di saat sebagian orang mulai menutup lembaran Idulfitri 1 Syawal, di beberapa sudut Jawa Timur justru suasana lebaran baru mencapai puncaknya. Orang-orang kembali bersilaturahim, ketupat kembali disajikan, dan kebersamaan kembali dirayakan.
Inilah Lebaran Ketupat, yang oleh sebagian masyarakat juga kerap disebut sebagai lebaran kedua, sebuah tradisi yang hidup dan mengakar, terutama di Paciran Lamongan, Gresik, Tuban, hingga Madura.
Lebaran Ketupat dirayakan pada tanggal 8 Syawal. Penentuan waktu ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi memiliki dasar spiritual yang kuat. Sebab hingga tanggal 7 Syawal, sebagian umat Islam masih menjalankan puasa sunnah enam hari.
Maka, hari kedelapan menjadi penanda selesainya rangkaian ibadah tersebut. Lebaran Ketupat, dalam konteks ini, bukan hanya peristiwa tanggal, tetapi perjalanan batin yang utuh, dari pengendalian diri hingga penyempurnaan ibadah.
Lebaran Ketupat
Cara merayakan Lebaran Ketupat pun beragam. Di beberapa daerah, suasananya begitu meriah, bahkan terasa lebih semarak dibandingkan Idulfitri 1 Syawal. Warga saling berkunjung, menggelar hajatan, dan menjadikannya sebagai puncak silaturahim.
Namun di tempat lain, perayaan ini berlangsung sederhana. Warga berkumpul di mushola atau masjid, membawa tumpeng berisi ketupat, lepet, serta aneka lauk pauk dari rumah masing-masing. Tumpeng-tumpeng itu disusun berjajar di serambi, lalu doa bersama dipanjatkan. Setelah itu, makanan dibagi, dimakan bersama sambil berbincang hangat. Sebagian dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga.
Tidak ada kemewahan, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Tradisi ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan kemegahan. Ia cukup hadir dalam kesederhanaan yang tulus.
Warisan Dakwah
Lebaran Ketupat tidak lahir dalam ruang kosong. Ia adalah hasil kearifan dakwah para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan Budaya Jawa.
Alih-alih menghapus tradisi, para wali justru mengisinya dengan nilai baru. Ketupat dijadikan simbol, sehingga ajaran Islam dapat diterima secara halus dan membumi. Ini adalah contoh nyata bagaimana komunikasi kultural bekerja, pesan tidak disampaikan dengan ceramah panjang, tetapi melalui simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ngaku Lepat
Dalam tradisi Jawa, ketupat dimaknai sebagai “ngaku lepat”: mengakui kesalahan. Sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan makna mendalam.
Saat seseorang membawa ketupat ke rumah saudara atau tetangga, ia tidak sekadar berkunjung. Ia sedang menyampaikan pesan yang lebih dalam: membuka diri, merendahkan ego, dan berupaya memperbaiki hubungan.
Meminta maaf memang tidak selalu mudah. Namun melalui simbol seperti ketupat, pesan itu disampaikan dengan cara yang lebih halus, tanpa harus banyak kata.
Laku Papat
Ketupat juga dimaknai sebagai “laku papat”: lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berarti selesai dari pengendalian hawa nafsu. Luberan berarti berbagi rezeki. Leburan adalah proses saling memaafkan. Sementara laburan bermakna menjaga kesucian diri setelah kembali menjadi fitri.
Keempatnya menjadi pengingat bahwa lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih baik.
Anyaman Kehidupan
Jika diperhatikan, ketupat dibungkus dengan anyaman janur yang rumit, penuh simpul dan persilangan. Seperti kehidupan manusia. Tidak selalu lurus, sering kali berliku dan penuh kesalahan. Namun dari kerumitan itu, terbentuk sesuatu yang utuh dan kuat.
Anyaman itu seakan mengajarkan bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menjadi lebih baik.
Makna Janur
Janur sebagai pembungkus ketupat memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam tradisi Jawa, ia dimaknai sebagai “jatining nur”: cahaya sejati. Ia menjadi simbol hati nurani yang membimbing manusia. Beras di dalam ketupat melambangkan keinginan, sementara janur adalah pengendali yang mengarahkannya.
Hidup bukan soal menghilangkan keinginan, tetapi bagaimana menjaganya tetap dalam kendali nilai dan kesadaran.
Ketupat dan Lepet
Ketika ketupat dibelah, tampak isi yang putih bersih, perlambang kesucian. Namun kesucian itu tidak hadir begitu saja. Ia melalui proses panjang: direndam, dibungkus, lalu direbus dalam waktu lama.
Begitu pula manusia. Tidak ada perubahan yang instan. Kesucian lahir dari proses, dari kesabaran, dari pengendalian diri, dari kesungguhan untuk menjadi lebih baik.
Ramadhan dan puasa Syawal adalah ruang proses itu. Sementara Lebaran Ketupat menjadi penanda, bahwa perjalanan itu telah dilalui, dan manusia sedang belajar kembali menjadi lebih bersih, lebih utuh, dan lebih bijak.
Selain ketupat, ada pula lepet yang berasal dari kata “lepat” atau kesalahan. Menariknya, lepet terbuat dari beras ketan yang lengket. Ini menjadi simbol bahwa setelah saling memaafkan, hubungan justru menjadi lebih erat. Tradisi ini tidak hanya menghapus jarak, tetapi juga memperkuat kedekatan.
Kohesi Sosial – Spiritual
Lebaran Ketupat menghadirkan ruang perjumpaan yang nyata. Orang datang, duduk bersama, makan bersama, tanpa sekat.
Dalam kehidupan masyarakat, tradisi seperti ini menjadi perekat yang menjaga hubungan tetap hangat dan tidak mudah renggang. Ia merawat kebersamaan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Seluruh makna ini berakar pada sebuah ajaran Islam. Rasulullah Muhammad SAW menyebutkan bahwa puasa Ramadhan yang diikuti dengan enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan seperti berpuasa sepanjang tahun.
Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya memaafkan, menahan amarah, dan menjaga silaturahim. Lebaran Ketupat menjadi cara budaya untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Lebaran Kedua
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan dipenuhi koneksi digital, Lebaran Ketupat mengingatkan kita pada sesuatu yang semakin jarang kita rasakan: kedekatan yang tulus.
Bahwa manusia tidak cukup hanya terhubung, tetapi juga perlu saling menyentuh hati. Ketupat bukan sekadar hidangan, ia adalah bahasa. Janur bukan sekadar anyaman, ia adalah simbol. Dan silaturahim bukan sekadar tradisi, ia adalah jalan untuk merawat kemanusiaan.
Karena itulah, Lebaran Ketupat kerap disebut sebagai lebaran kedua. Bukan sekadar pengulangan, tetapi pendalaman makna. Jika Idulfitri adalah momen kembali, maka Lebaran Ketupat adalah momen menyempurnakan: meneguhkan maaf, menguatkan silaturahim, dan merawat hubungan dengan lebih tulus.
Yang perlu kita sadari bahwa yang tinggal dari hidup ini bukan apa yang kita miliki, tetapi siapa yang kita jaga. Bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa tulus kita meminta maaf, memaafkan, dan menjaga hubungan dengan sesama.
Karena di situlah, manusia benar-benar menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Oleh: Zainal Muttaqin (Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur)
Editor : Iwan Iwe



















