SAMPANG - Tragedi ambruknya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, pada Senin lalu, disaksikan oleh salah satu santri yang selamat, Ahmadi Sulton (15).
Santri asal Desa Majengan, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura ini menceritakan detik-detik saat kejadian yang menewaskan salah satu temannya, Muhammad Mashudulhaq.
Ahmadi menjelaskan sebelum musibah terjadi, ia sempat berbicara bahkan duduk dengan Mashudulhaq, yang juga merupakan tetangganya sekaligus sepupu.
“Saya sempat berbicara dengan Mashudulhaq sebelum musala roboh. Ia masih tersenyum dan menyapa saya tapi saat salat akan di mulai saya pindah ke barisan depan sedangkan Mashudulhaq tetap di sana,” ujarnya.
Baca Juga : Dua Jenazah Santri Terakhir Asal Bangkalan Teridentifikasi, Salah Satunya Keponakan Bupati
Saat bangunan roboh, Sulton berada di barisan ketiga dari imam salat, tepat di bangunan lama, sehingga ia aman dari reruntuhan bangunan baru yang ambruk.
“Alhamdulillah, saya berada di tempat yang aman. Banyak teman yang terkena reruntuhan, termasuk sepupu saya,” tambahnya.
Kisah Ahmadi Sulton menjadi saksi hidup dari tragedi yang mengguncang Pondok Pesantren Al Khoziny, sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya struktur musala tersebut saat diterjang musibah. (Ali Muhdor/Fadillah Putri)
Baca Juga : Identifikasi 8 Jenazah Korban Ponpes Al khozyni, Total sudah 48 Teridentifikasi
Editor : M Fakhrurrozi




















