LUMAJANG - Dampak musim kemarau yang melanda wilayah Lumajang kian dirasakan warga secara nyata. Pemandangan warga yang berebut air bersih dari mobil tangki droping Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang terlihat di Desa Gucialit, Selasa siang. Dengan membawa wadah seadanya, mulai dari jeriken, galon, timba, hingga tong, warga berlomba-lomba mengumpulkan air sebanyak mungkin demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selama ini, warga setempat mengandalkan air hujan yang ditampung dalam tandon sebagai sumber utama kebutuhan air bersih. Namun, ketika musim kemarau tiba, persediaan air dalam tandon tersebut kian menipis, membuat warga kehilangan akses terhadap air bersih. Kondisi krisis air ini diketahui telah berlangsung sejak sebulan terakhir di wilayah tersebut.
Berdasarkan data BPBD Lumajang, tercatat sebanyak 19 desa di enam kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau tahun ini. Sementara itu, kegiatan droping air bersih hingga kini masih berlangsung di enam desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Ranuyoso, Kedungjajang, dan Gucialit.
Salah satu warga Desa Gucialit, Suwono, mengungkapkan bahwa kekeringan di wilayahnya mulai terasa sejak awal Juli 2026. “Kekeringan mulai awal Juli 2026 ini, sebelumnya mengandalkan air hujan untuk tandon. Kondisinya sekarang alhamdulillah ada bantuan dari BPBD. Kalau di tandon sudah habis, mengandalkan bantuan untuk mengajukan ke desa, kalau enggak ada bantuan, nyari di sumber, turun ke sumber,” ujarnya.
Baca Juga : Pemprov Jatim-BNPB Antisipasi Musim Kemarau dan Petakan Risiko Kekeringan
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan permintaan droping air dari desa-desa terdampak.
“Sampai hari ini memang ada beberapa desa yang sudah memenuhi atau dalam arti meminta air bersih. Mungkin nanti akan bertambah desa-desa yang kebutuhan airnya besar. Untuk armada, kita siapkan empat armada,” terangnya.
Guna mempercepat penanganan di wilayah-wilayah terdampak kekeringan, petugas BPBD mengimbau aparat desa untuk segera melakukan koordinasi apabila ditemukan titik lokasi yang membutuhkan bantuan droping air bersih. Langkah ini diharapkan dapat memastikan kebutuhan air warga tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung, sekaligus mencegah meluasnya dampak krisis air ke desa-desa lain yang berpotensi terdampak.
Editor : Iwan Iwe



















