Menu
Pencarian


Jembatan Kaca Bromo Jalani Uji Kelayakan, Ikon Wisata Baru di Probolinggo Siap Dibuka

Farid Fahlevi - Kamis, 25 Juni 2026 20:30
Jembatan Kaca Bromo Jalani Uji Kelayakan, Ikon Wisata Baru di Probolinggo Siap Dibuka
Proses uji kelayakan Jembatan Kaca Bromo di Bukit Seruni Poin, Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Istimewa)
PROBOLINGGO -

Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan Bromo-Tengger-Semeru (BTS) tak lama lagi bakal dibuka. Jelang pre launching, sejumlah pejabat dan tim teknis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap infrastruktur yang digadang-gadang menjadi ikon wisata baru di Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (25/6/2006)

Lantai kaca sepanjang 130 meter yang membentang di ketinggian 83 meter itu kembali diuji dan ditelusuri langsung oleh jajaran Kementerian Kehutanan, Kementerian PUPR, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), hingga Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Pemeriksaan akhir ini dilakukan menjelang agenda pre-launching yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (27/6/2026).

PPK Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS) Kementerian PUPR, Agung Wahyudi, memastikan jembatan tersebut telah melewati berbagai tahapan pengujian dengan standar keamanan yang ketat.

“Spesifikasinya menggunakan laminated glass. Jadi perpaduan antara tempered glass dengan interlayer SentryGlass Plus atau SGP,” kata Agung.

Menurutnya, setiap panel kaca berukuran 1,8 meter x 1,5 meter dengan berat sekitar 180 kilogram. Material tersebut disusun berlapis dengan total ketebalan mencapai 25,52 milimeter.

Tak hanya diuji untuk penggunaan normal, material kaca juga sengaja diuji hingga batas kerusakan maksimal di laboratorium.

“Lapisan kaca bagian bawah baru mengalami pecah pertama setelah menerima beban sekitar 6.290 kilogram atau 6,2 ton. Setelah itu pengujian diteruskan hingga lapisan kaca atas pecah pada beban sekitar 3.980 kilogram,” ujarnya.

Agung menegaskan, simulasi penggunaan harian juga telah dilakukan sebelum jembatan dinyatakan layak digunakan.

“Selain uji ekstrem sampai hancur di laboratorium, kami juga melakukan simulasi beban desain harian. Mulai dinaiki delapan orang dewasa secara bersamaan hingga simulasi menggunakan bantalan karet jembatan. Hasilnya tidak ditemukan retak maupun kerusakan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Agung menyebut Jembatan Kaca Seruni Point dirancang memiliki umur layanan hingga 50 tahun, jauh lebih panjang dibanding rata-rata umur jembatan gantung pada umumnya.

Namun demikian, umur panjang tersebut sangat bergantung pada kedisiplinan pengelola dalam melakukan perawatan.

“Sama halnya seperti manusia, harus makan, harus berobat supaya umurnya panjang. Jembatan ini juga demikian. Karena barang buatan manusia, harus ada perawatan berkala dan penggantian elemen tertentu,” katanya.

Menurut dia, beberapa komponen nonstruktural seperti jaring pengaman, sealant sambungan kaca, safety walk hingga lapisan cat pelindung memiliki masa pakai tertentu dan harus diganti secara berkala.

“Kalau tidak segera diperbaiki saat ada kerusakan, itu bisa menjadi bagian kritis yang mengganggu keamanan jembatan,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager The Lawu Group, Achmad Ridho, memastikan pengelola telah menyiapkan sistem pemeliharaan khusus untuk menjaga kualitas dan keamanan jembatan setelah resmi dibuka.

Ridho mengatakan perawatan tidak akan diserahkan kepada pihak ketiga, melainkan dilakukan oleh tim internal yang telah memahami detail konstruksi jembatan sejak awal pembangunan.

“Untuk perawatan rutin harian, kami menggunakan tim yang siaga di sini. Kami juga mengajak bergabung dua personel bentukan BGTS yang dulu ikut menangani proyek ini,” ujarnya.

Menurut Ridho, keterlibatan personel yang memahami konstruksi sejak tahap pembangunan menjadi nilai penting untuk memastikan kondisi jembatan selalu terpantau.

“Jadi pendampingan dan inspeksi detail dilakukan setiap hari oleh tim yang memang memiliki kapabilitas,” katanya.

Tak hanya menawarkan sensasi berjalan di atas lantai kaca transparan, jembatan yang mulai dibangun sejak September 2021 tersebut juga diproyeksikan menjadi magnet wisata baru di kawasan Bromo.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi, menyebut keunggulan utama jembatan ini terletak pada panorama yang disajikan kepada wisatawan.

“Dari atas jembatan ini, wisatawan bakal disuguhi panorama kawasan Bromo dari angle yang benar-benar baru,” ujarnya.

Menurut Heri, pengunjung dapat menikmati pemandangan tiga gunung ikonik sekaligus dalam satu pandangan.

“Bayangkan, kemegahan Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Batok bisa ditangkap dalam satu frame sekaligus dari atas jembatan kaca transparan,” katanya.

Tak hanya itu, di sisi selatan wisatawan juga akan disuguhi hamparan lautan pasir, lembah dan perbukitan hijau yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan Bromo.

Dengan kombinasi sensasi, panorama dan konstruksi yang unik, Heri optimistis Jembatan Kaca Seruni Point akan menjadi destinasi unggulan baru yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Ini akan menjadi kiblat wisata unggulan baru, bukan hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara,” tutupnya. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.