BLITAR - Hujan yang terus mengguyur Kabupaten Blitar dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan para pengrajin kerupuk mengalami kendala signifikan dalam proses produksi. Pasalnya, proses pengeringan bahan baku kerupuk menjadi terhambat akibat tidak adanya sinar matahari.
Untuk mengatasi hal ini, para pengrajin terpaksa menggunakan oven guna mengeringkan bahan kerupuk. Namun, langkah tersebut berimbas pada meningkatnya biaya produksi.
Rio Yudistira, pengrajin dan pemilik penggorengan kerupuk asal Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, mengungkapkan bahwa musim penghujan bisa menjadi tantangan sekaligus berkah bagi produsen kerupuk seperti dirinya.
"Kendalanya, selain proses pengeringan menjadi terhambat, biaya juga membengkak karena harus membeli gas elpiji lebih banyak. Bahan kerupuk yang akan digoreng harus benar-benar kering agar menghasilkan kerupuk yang renyah," ujarnya.
Baca Juga : Berkah Ramadan, Pengrajin Beduk di Blitar Kebanjiran Pesanan
Di sisi lain, Rio mengakui bahwa musim penghujan juga membawa berkah. Menurutnya, omzet penjualan justru bisa meningkat dibandingkan pada musim kemarau.
"Alhamdulilah, permintaan kerupuk sering meningkat. Banyak keluarga yang lebih sering menikmati camilan hangat seperti sup atau soto di rumah, dan kerupuk menjadi pelengkap. Omzet kami bisa naik dibanding hari biasa di musim kemarau." ucapnya.
Rio menambahkan, meski biaya proses produksi meningkat hingga 20 persen, pihaknya tidak akan menaikkan harga penjualan kepada para pedagang yang setiap hari mengambil kerupuk di tempatnya. (Moch. Asrofi)
Editor : JTV Kediri



















