Menu
Pencarian

Demi Keluarga, Nelayan Probolinggo Tetap Melaut di Tengah Ancaman Gelombang Equatorial Rossby

Farid Fahlevi - Jumat, 12 Juni 2026 17:17
Demi Keluarga, Nelayan Probolinggo Tetap Melaut di Tengah Ancaman Gelombang Equatorial Rossby
Puluhan kapal jenis jonggrang yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. (Foto: Farid Fahlevi)

PROBOLINGGO - Peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Sidoarjo, terkait pengaruh gelombang Equatorial Rossby di Laut Jawa tidak menyurutkan aktivitas nelayan di Kota Probolinggo. Demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan memanfaatkan musim ikan yang sedang melimpah, para nelayan nekat melaut meski dibayangi potensi cuaca buruk.

Sejak beberapa hari terakhir, BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Jawa Timur. Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas gelombang Equatorial Rossby yang melintas di Laut Jawa dan berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Pantauan di Pelabuhan Tanjung Tembaga dan Pelabuhan Perikanan Mayangan, Kota Probolinggo, Jumat (12/6/2026) sore, aktivitas nelayan berlangsung normal. Sejumlah kapal terlihat bersiap berlayar menuju perairan Selat Madura. Para nelayan memeriksa kondisi mesin kapal, menyiapkan jaring, bahan bakar, hingga mengangkut es batu untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan.

Muhamad Rudi, salah seorang nelayan Mayangan mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap melaut. Menurutnya, saat ini hasil tangkapan ikan di perairan Selat Madura sedang melimpah sehingga menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

“Kalau sekarang ikannya lagi banyak, terutama dua bulan terakhir. Sekali melaut hasilnya cukup bagus. Kalau kami tidak berangkat, tentu tidak ada pemasukan untuk keluarga,” ujar Rudi.

Ia mengaku memahami adanya peringatan cuaca dari BMKG. Namun sebelum berlayar, dirinya bersama awak kapal selalu memastikan perlengkapan keselamatan tersedia.

“Kami tetap waspada. Jaket pelampung selalu dibawa, kondisi kapal dicek dulu sebelum berangkat. Kalau cuaca memang benar-benar buruk biasanya kami memilih kembali lebih cepat,” katanya.

Rudi menambahkan, sebagian besar nelayan telah terbiasa membaca perubahan cuaca di laut. Meski demikian, mereka tetap memantau informasi terbaru dari BMKG dan petugas pelabuhan.

“Kalau ada informasi angin kencang atau gelombang tinggi kami pasti pertimbangkan. Keselamatan tetap yang utama, tapi kebutuhan ekonomi juga harus dipenuhi,” tuturnya.

Menurutnya, kapal jenis jonggrang dengan kapasitas sekitar 16 Gross Ton (GT) yang digunakan nelayan setempat mampu mengangkut hasil tangkapan hingga hampir dua ton dalam sekali pelayaran apabila kondisi ikan sedang melimpah.

Sementara itu, Humas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo, Hendra Yulis Prianto, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan BMKG untuk memberikan informasi kepada para pelaku pelayaran.

“Memang ada informasi dari BMKG terkait pengaruh gelombang Rossby yang berpotensi memicu hujan. Namun berdasarkan pantauan terakhir, kondisi cuaca di perairan Probolinggo masih relatif aman untuk aktivitas pelayaran,” ujar Hendra.

Ia menjelaskan, saat ini kecepatan angin di perairan utara Probolinggo masih tergolong rendah.

“Dari laporan yang kami terima, angin dari arah utara masih sekitar 4 knot. Gelombang juga masih berkisar 0,3 meter dengan arus dari timur. Jadi kondisi cuaca saat ini masih cukup baik,” katanya.

Meski demikian, Hendra meminta seluruh operator kapal dan nelayan untuk tidak lengah terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Kami mengimbau seluruh operator kapal, pemilik kapal, maupun nelayan agar meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan dan keamanan pelayaran,” tegasnya.

Menurut Hendra, setiap kapal wajib dipastikan memenuhi persyaratan kelaiklautan sebelum berangkat melaut.

“Pastikan kondisi kapal benar-benar layak beroperasi. Jangan mengangkut muatan atau penumpang melebihi kapasitas yang telah ditentukan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan alat keselamatan selama berlayar.

“Khusus bagi awak kapal maupun penumpang, wajib menggunakan jaket pelampung. Ini sangat penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di laut,” katanya.

Selain itu, Hendra meminta nelayan tidak memaksakan berlayar apabila kondisi cuaca memburuk.

“Apabila cuaca tidak memungkinkan, sebaiknya pelayaran ditunda. Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai aktivitas mencari nafkah justru membahayakan nyawa,” ucapnya.

KSOP juga mengingatkan agar kapal tidak mengangkut barang-barang berbahaya yang dapat mengancam keselamatan pelayaran.

“Semua pihak harus mematuhi aturan keselamatan pelayaran. Dengan begitu aktivitas pelayaran maupun penangkapan ikan dapat berjalan aman dan lancar,” pungkas Hendra.

Meski ancaman cuaca akibat gelombang Equatorial Rossby masih menghantui perairan Laut Jawa, aktivitas nelayan Probolinggo diperkirakan tetap berlangsung dalam beberapa hari ke depan, terutama karena musim ikan di kawasan Selat Madura sedang berada pada puncaknya. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.