Balapan mobil dan panggung K-pop kini berbagi kiblat mode yang sama. Jaket racing bermotif garis tegas tak lagi eksklusif milik pembalap Formula 1 (F1) kini ia menghiasi lemari anak muda dan berseliweran di linimasa TikTok serta Instagram.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ketika idola Stray Kids, Felix, hadir sebagai tamu Mercedes-AMG Petronas di F1 Shanghai Grand Prix 2026, ia sudah menjadi bahan perbincangan berhari-hari sebelum balapan dimulai. Sebelumnya, momen serupa terjadi saat Jay dari Enhypen tampil di Singapore Indoor Stadium dengan mengenakan atribut resmi Oracle Red Bull Racing dan mendedikasikan sebagian pertunjukannya kepada Max Verstappen, sebuah aksi yang langsung menyebar di komunitas K-pop maupun F1. Yang menarik, kolaborasi itu bermula dari unggahan TikTok organik seorang idola mengenakan kaus Red Bull, sebelum akhirnya berkembang menjadi kemitraan media resmi dengan tim pada awal 2026.
Mengapa fenomena ini meledak? Jawabannya ada pada pergeseran demografi penggemar. Survei Global F1 Fan Survey 2025 oleh Motorsport Network mencatat 58 persen responden Gen Z dan 58 persen responden perempuan menyebut fashion serta gaya hidup sebagai bagian dari fanatisme mereka terhadap F1. Data ini menjelaskan mengapa merek besar berlomba masuk ke arena balap: belanja sponsorship di kategori apparel naik 75 persen dalam dua tahun terakhir, dengan setidaknya tujuh kesepakatan besar diluncurkan sepanjang 2026, menurut studi Ampere Analysis.
Musim 2026 didominasi gaya "motorcore" berpadu "quiet luxury" jaket racing bermotif bordir vintage, sneaker ramping, hingga kolaborasi desainer seperti Adidas x Mercedes dan Dior x Lewis Hamilton yang menjembatani dunia olahraga dan mode kelas atas. Strategi harga pun ikut berubah: F1 menggandeng Aeropostale untuk lini pakaian terjangkau berkisar 16 hingga 66 dolar AS, jauh lebih murah dari merchandise premium biasa, demi menjaring konsumen muda sejak dini.
Baca Juga : Kimi Antonelli Raih Kemenangan di GP Belgia Penuh Drama
Singkatnya, jaket racing bukan lagi sekadar seragam pit lane. Ia telah menjelma simbol identitas lintas budaya, tempat kecepatan sirkuit bertemu tempo musik panggung, dan keduanya sama-sama diperdagangkan lewat linimasa generasi muda. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe



















