JAKARTA - Aktivitas industri manufaktur di Indonesia dilaporkan terus berada dalam jalur pertumbuhan yang positif pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/8/2026), Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada Triwulan II-2026 tercatat sebesar 52,31. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan nasional secara konsisten tetap berada di zona ekspansi karena berada di atas ambang batas netral 50,0, sekaligus mengindikasikan prospek bisnis yang semakin menguat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Perkembangan kinerja industri manufaktur ini memiliki arti yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Sebagai catatan, sepanjang tahun 2025, sektor industri manufaktur memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Indonesia dengan menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk menangkap pergerakan sektor vital ini secara cepat, BPS merancang IKBM sejak Triwulan III-2025 dengan mengadopsi metode perhitungan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index atau PMI) yang dipublikasikan oleh S&P Global.
Melalui pengukuran berkala ini, pemerintah dan pelaku usaha dapat mendeteksi titik balik siklus bisnis secara akurat untuk mendukung analisis pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data resmi BPS, berikut adalah lima komponen penting pembentuk IKBM pada Triwulan II-2026 :
1. Pesanan Baru (New Orders) Terus Bertambah
Permintaan barang dari pasar dilaporkan terus mengalami peningkatan yang stabil. Pada Triwulan II-2026, indeks komponen pesanan baru berada di level 53,78, yang menegaskan posisi ekspansif karena berada di atas batas netral 50,0. Meskipun sempat mengalami penurunan pada awal tahun 2026 di level 52,69, indeks pesanan baru kembali bangkit mendekati catatan terbaiknya pada akhir tahun 2025 yang sempat menyentuh angka 53,83. Pertumbuhan pesanan baru ini memberikan sinyal positif bagi keberlangsungan roda produksi di masa mendatang.
2. Kapasitas Produksi (Output) Semakin Bergeliat
Seiring dengan meningkatnya pesanan baru, para pelaku usaha merespons secara cepat dengan meningkatkan volume produksi mereka. Indeks komponen produksi atau output melonjak ke angka 54,21 pada Triwulan II-2026, yang menjadi level tertinggi dalam empat triwulan terakhir. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan Triwulan I-2026 yang berada di posisi 51,78. Peningkatan aktivitas pabrikasi yang kuat ini menjadi salah satu pendorong utama yang menyokong penguatan angka IKBM secara keseluruhan.
3. Penumpukan Stok Bahan Baku (Stock of Purchases) untuk Antisipasi
Para pengelola industri manufaktur tampak menerapkan strategi antisipatif guna menyambut peningkatan pesanan dan rencana produksi beberapa bulan ke depan. Hal ini terlihat dari indeks persediaan bahan baku atau stock of purchases yang merangkak naik ke posisi 51,86 pada Triwulan II-2026. Penguatan komponen persediaan ini menunjukkan bahwa perusahaan secara aktif terus mengamankan pasokan bahan mentah agar proses operasional pabrik tidak mengalami hambatan di tengah meningkatnya permintaan pasar.
4. Penyerapan Tenaga Kerja (Employment) Masih Tertahan di Zona Lesu
Di balik gairah produksi dan pesanan baru yang melonjak, sektor ketenagakerjaan rupanya masih belum pulih sepenuhnya. Indeks komponen penyerapan tenaga kerja tercatat berada di level 49,92 pada Triwulan II-2026, atau berada tipis di bawah garis batas netral 50,0 yang menandakan adanya sedikit perlambatan (kontraksi). Tren ini mengindikasikan bahwa para pelaku industri masih bersikap sangat hati-hati dan belum melakukan penambahan karyawan secara besar-besaran. Langkah ini dinilai wajar karena penyerapan tenaga kerja biasanya bersifat lambat merespons (lagging indicator) perbaikan pasar, di mana perusahaan cenderung memaksimalkan kapasitas pekerja yang ada terlebih dahulu sebelum merekrut tenaga kerja baru.
5. Waktu Pengiriman Barang dari Pemasok (Suppliers' Delivery Times) Menjadi Lebih Cepat
Komponen kelancaran rantai pasok menunjukkan perkembangan yang menarik. Indeks waktu pengiriman dari pemasok tercatat di angka 49,71 pada Triwulan II-2026. Karena komponen ini menggunakan sistem penilaian terbalik (inverted index), angka di bawah 50,0 justru memberikan makna positif, yaitu pengiriman bahan baku dari pihak pemasok (supplier) ke pabrik berlangsung dengan durasi yang lebih cepat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kelancaran pengiriman ini mengindikasikan adanya pelonggaran tekanan pada rantai pasok global dan domestik, yang dipicu oleh moderasi permintaan bahan baku secara umum.
Secara umum, konsistensi angka IKBM yang selalu bertahan di atas level 50,0 selama empat triwulan terakhir mulai dari 50,48 pada Triwulan III-2025, naik menjadi 52,21 pada Triwulan IV-2025, sedikit melandai ke 51,37 pada Triwulan I-2026, hingga kembali menguat ke 52,31 pada Triwulan II-2026 menunjukkan bahwa fondasi industri manufaktur Indonesia masih sangat kokoh menghadapi dinamika ekonomi global.
Sebagai informasi, pengumpulan data IKBM oleh Direktorat Statistik Industri BPS dilakukan melalui survei triwulanan terhadap perusahaan industri manufaktur skala besar dan sedang di seluruh Indonesia, baik yang berada di dalam kawasan industri maupun di luar kawasan industri. Pada Triwulan II-2026, survei ini berhasil menjaring data dari sampel sebanyak 6,151 unit usaha. Pemerintah berharap kestabilan ekspansi sektor manufaktur ini dapat terus terjaga demi menyokong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan di masa mendatang.
Penulis : Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe



















