PONOROGO - Menjelang perayaan Lebaran Ketupat, permintaan ketupat di Kabupaten Ponorogo mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini menjadi berkah tersendiri bagi para pengrajin yang mampu meraup keuntungan dari lonjakan pesanan setiap tahunnya.
Ketupat tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional khas Lebaran, tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam. Dalam budaya Jawa, ketupat melambangkan “ngaku lepat” atau pengakuan kesalahan sebagai simbol saling memaafkan.
Menjelang Lebaran Ketupat, sejumlah lapak penjual ketupat di sepanjang jalan di Ponorogo dipadati pembeli. Para pengrajin tampak sibuk merangkai janur atau daun kelapa muda menjadi anyaman ketupat sejak pagi hari.
Salah satu pengrajin, Parmin, mengaku momen ini menjadi waktu yang paling dinantikan setiap tahun. Ia telah menekuni usaha pembuatan ketupat sejak 2013.
Baca Juga : Kuota SD Sekolah Rakyat di Ponorogo Baru Terisi 16 Siswa, Penjaringan Masih Berlanjut
“Setiap Lebaran Ketupat permintaan pasti naik. Tahun ini saja saya sudah menjual sekitar 16 ribu ketupat,” ujarnya.
Ia mulai berjualan sejak hari kedua Idulfitri dan mampu menjual ribuan ketupat dalam waktu singkat. Ketupat yang dijual dibanderol dengan harga antara Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per ikat, tergantung ukuran.
Untuk bahan baku, Parmin mendapatkan janur dari wilayah Ngebel dengan harga sekitar Rp25 ribu untuk dua helai daun kelapa. Setiap hari, ia berjualan dari pagi hingga sore di pinggir jalan untuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Baca Juga : Ratusan Pekerja SPPG dan Pelaku UMKM Demo Dukung Program MBG di DPRD Ponorogo
Menurutnya, lonjakan permintaan seperti ini hanya terjadi sekali dalam setahun, tepatnya saat perayaan Lebaran Ketupat.
Dengan meningkatnya permintaan, para pengrajin berharap tradisi Lebaran Ketupat tetap lestari, sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Editor : JTV Madiun



















