Konten kreator gim asal Bukittinggi, Sumatera Barat, Khairul Fajri, menembus 1 juta pengikut di TikTok pada Juni 2026 setelah tiga akun yang dibangun sebelumnya diblokir platform tersebut. Total pengikut yang lenyap dari ketiga akun tersebut mencapai 1,6 juta.
Berangkat dari pengalaman tersebut, kreator yang dikenal dengan nama FajriTv itu menuntut transparansi moderasi konten dari platform digital, sebuah persoalan yang kini menghantui ribuan pekerja ekonomi kreator di Indonesia yang menggantungkan penghasilan pada satu akun.
Pemblokiran pertama terjadi pada 2021, ketika akun TikTok Fajri dihuni 600.000 pengikut. Ia membuat akun baru hingga mencapai 300.000 pengikut, tetapi kembali diblokir Agustus 2022. Percobaan ketiga membawanya ke angka 700.000 pengikut sebelum diblokir lagi Mei 2023.
Setiap kali akun hilang, Fajri harus memulai dari angka nol. Menurut Fajri, alasan yang disampaikan platform selalu serupa dan bersifat umum, tanpa perincian pasal pelanggaran dengan jelas.
Ia menduga akumulasi pelanggaran berasal dari tema konten yang diproduksi pada awal kariernya tentang ulasan seputar akun gim Free Fire. Tema tersebut belakangan masuk kategori yang dibatasi platform.
"Pelanggaran konten saya muncul karena konten saya waktu itu membahas seputar akun gim, dan waktu itu di TikTok dilarang membahas akun seperti itu, akhirnya kena pelanggaran," ujarnya.
Proses banding pun tidak berjalan mulus. Pada akun pertama, Fajri bahkan tidak tahu keputusan pemblokiran bisa digugat. Hal tersebut berdampak besar terhadap penghasilannya sebagai konten kreator.
"Pada akun pertama saya tidak pernah mengajukan banding karena saya tidak tahu bahwa bisa diajukan banding. Pada akun kedua sempat beberapa kali saya ajukan banding dan akunnya dipulihkan, tidak berjalan begitu lama akunnya kembali diblokir," tuturnya.
"Ada beberapa endorse yang cancel gara-gara akun saya terblokir waktu itu. Untuk nilainya tidak terlalu banyak, under Rp15 juta saja," kata Fajri menambahkan.
Konfirmasi kepada TikTok Indonesia terkait alasan pemblokiran ketiga akun tersebut masih diupayakan hingga berita ini ditulis. Pengalaman kehilangan tiga akun membuat Fajri menyoroti minimnya penjelasan yang diterima kreator saat kena sanksi.
"Saya menuntut transparansi yang lebih jelas. Platform perlu menjelaskan mengapa sebuah konten atau akun dikenai pembatasan, aturan mana yang dilanggar, bagaimana proses bandingnya, dan berapa lama penyelesaiannya. Kreator juga seharusnya mendapat pemberitahuan yang masuk akal, bukan sekadar keputusan otomatis tanpa konteks," ucapnya.
Pada akun keempat, Fajri mengubah cara kerjanya. Ia menyaring diksi dan substansi konten sebelum diunggah, sekaligus menyebar distribusi ke platform lain agar tidak bergantung pada satu kanal. Selain TikTok dengan 1,1 juta pengikut, ia aktif di Instagram dengan 45.000 pengikut, YouTube, dan Snack Video.
"Sekarang saya sudah sangat berhati-hati dalam membuat konten. Dari segi pemilihan kosakata dan isi kontennya sudah saya pilih-pilih. Saya juga aktif di beberapa platform seperti YouTube dan Snack Video," kata Fajri.
Dari sisi pemasukan, Fajri kini tidak lagi bergantung pada satu pintu. Di tengah derasnya tawaran promosi judi daring kepada kreator gim, Fajri mengaku pernah menolak kontrak bernilai ratusan juta rupiah. Angka itu jauh melampaui seluruh penghasilan yang pernah diterima sebagai buruh pabrik.
"Saya pernah menolak endorse judi online dengan angka yang menurut saya sangat fantastis. Untuk lima kali unggah konten dalam sebulan saya dibayar Rp200 juta," ujar pria 23 tahun menjelaskan.
"Saya tolak karena memang tidak diperbolehkan di Indonesia untuk mempromosikan hal itu, dan karena itu bisa berdampak buruk buat viewers saya yang notabene anak-anak," tegasnya.
Sebagai jaring pengaman jika akunnya kembali hilang, Fajri kini menyiapkan cadangan finansial dan berencana merambah sektor lain dengan berupaya membangun bisnis di bidang lainnya.
Editor : Khasan Rochmad



















