SURABAYA - Pasien ketergantungan gadget di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya (RSJ Menur), terus meningkat. Berdasarkan data sejak Januari hingga Juli 2024, sekitar 3.000 anak dan remaja menjalani terapi di RSJ Menur.
"Mayoritas dari mereka dirawat karena ketergantungan gadget yang mempengaruhi perilaku dan perkembangan mental mereka," ujar Direktur RSJ Menur, Vitria Dewi dalam rilisnya, Minggu (22/2/2026).
Vitria Dewi mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir kasus gangguan jiwa pada anak dan remaja meningkat pesat.
"Jumlah kasus terus meningkat terutama akibat ketergantungan gadget dan game online yang berlebihan. Tapi ini bukan sekadar soal teknologi,” tuturnya.
Beberapa kasus telah terjadi. Diantaranya, sejumlah mahasiswa di Nusa Tenggara Timur bunuh diri akibat bunuh diri, seorang siswa SD di Demak ditemukan tewas gantung diri, dan seorang siswa dilaporkan nekat mengakhiri hidup setelah putus hubungan. Rentetan peristiwa tersebut memunculkan tanda bahaya pada kesehatan mental generasi muda.
Vitria menambahkan, persoalan anak dan remaja ketergantungan gadget ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan penanganan klinis, tetapi juga harus dilihat dari ilmu psikologi dan komunikasi.
"Karena kecanduan digital berkaitan dengan perubahan perilaku, hubungan sosial, dan pemrosesan emosi anak serta remaja. Peran keluarga sebagai benteng pertama ketahanan mental sangat krusial,” tambahnya.
Dampak psikologis ketergantungan digital, para ahli menjelaskan bahwa ketergantungan digital, termasuk penggunaan smartphone dan media sosial secara berlebihan, mempengaruhi kualitas interaksi sosial, regulasi emosi, dan pola pikir remaja.
"Banyak remaja yang mengalami penurunan kemampuan mengelola tekanan psikologis ketika realitas kehidupan pribadi tidak sesuai dengan citra yang ditampilkan di ruang digital," pungkasnya.
Data studi menunjukkan bahwa ketergantungan gadget sering berdampak pada gangguan emosional, hubungan sosial yang terganggu, dan masalah perilaku pada anak dan remaja, terutama ketika penggunaan perangkat tidak diawasi secara sehat oleh orang dewasa.
Para ahli melihat tekanan yang diperkuat oleh paparan digital sebagai salah satu faktor pemicu yang tidak bisa diabaikan. Ketergantungan terhadap gadget, media sosial, maupun permainan daring memberi dampak psikologis yang kompleks pada kehidupan remaja dan anak.
“Kita hidup di era di mana anak dan remaja terhubung secara digital 24 jam, tetapi sering merasa tidak didengar secara emosional,” ujar Suko Widodo, akademisi komunikasi Universitas Airlangga.
Suko yang juga Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur menambahkan, pentingnya perhatian yang lebih besar terhadap dampak digital terhadap kesehatan mental generasi muda.
“Tekanan digital ini harus menjadi perhatian serius semua pihak: keluarga, sekolah, media, dan pemerintah," ujarnya.
Dalam rillisnya, ISKI mengusulkan peningkatan literasi digital dan literasi emosional di sekolah dan keluarga. Tujuannya untuk membantu anak memahami dampak konten digital terhadap pikirannya.
Pencegahan dan deteksi dini perubahan perilaku pada anak sejak dini melalui peran aktif orang tua dan tenaga pendidik.
Akses layanan kesehatan mental yang lebih mudah bagi anak dan remaja yang sudah menunjukkan tandatanda stres atau kecanduan digital.
Kampanye nasional yang mengedukasi masyarakat luas, termasuk tentang bahaya ketergantungan game online, scrolling tanpa henti, hingga tekanan sosial di media sosial.
“Kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya gangguan mental warga akibat gadged bukan hanya sekadar angka. Ini adalah realitas yang membutuhkan aksi bersama, bukan hanya respon setelah tragedi terjadi," pungkas Suko. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















