Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya bulan Suro. Di Jawa Timur, momen pergantian tahun dalam penanggalan Jawa ini tidak hanya diramaikan dengan berbagai ritual dan tradisi budaya, tetapi juga aneka hidangan khas yang hanya muncul pada waktu tertentu.
Menariknya, makanan tersebut bukan sekadar sajian untuk disantap bersama. Di balik cita rasanya, terdapat makna filosofis yang mencerminkan rasa syukur, harapan, hingga doa masyarakat dalam menyambut tahun yang baru.
Berikut beberapa kuliner khas Jawa Timur yang identik dengan bulan Suro.
1. Tajin Sora, Bubur Khas Madura
Baca Juga : Senja di Agro Wisata Tamansuruh (AWT) Banyuwangi, Menikmati Kuliner dan Seni dengan Panorama Pegunungan Ijen

Masyarakat Madura memiliki tradisi membuat Tajin Sora saat memasuki bulan Suro atau Muharam. Dalam bahasa Madura, tajin berarti bubur, sedangkan sora merupakan sebutan masyarakat Madura untuk bulan Suro.
Berbeda dengan bubur pada umumnya, Tajin Sora berisi daging sapi rebus, emping, tauge, telur rebus, serta taburan bawang goreng. Setelah dimasak, makanan ini biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, hingga jamaah di langgar atau musala.
Baca Juga : Tren Wisata Kuliner Digital, Konten Kreator Jadi Referensi Baru Masyarakat Surabaya
Bagi masyarakat Madura, Tajin Sora menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan dan keselamatan. Keberagaman bahan yang digunakan juga melambangkan kekayaan rempah dan budaya masyarakat Madura.
2. Tumpeng Agung, Tradisi Syukur Masyarakat Banyuwangi
Di ujung timur Pulau Jawa, masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi Grebeg Tumpeng Agung yang digelar setiap tanggal 20 Suro. Dalam tradisi ini, warga mengarak berbagai jenis tumpeng keliling desa yang diiringi kesenian daerah.
Baca Juga : Es Campur 22 Pak Cipto, Kuliner Legendaris Kediri yang Bertahan Sejak 1980
Terdapat 5 jenis tumpeng yang dikenal masyarakat setempat yakni, tumpeng berupa nasi putih, tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk, gunungan palawija, gununga buah-buahan hingga aneka jajanan pasar yang disusun dalam ukuran besar.
Nantinya tumpeng akan diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa keberkahan. Tradisi Grebeg Tumpeng Agung menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus doa agar diberikan keberkahan pada tahun yang akan datang.
3. Takir Plonthang dalam Tradisi Baritan Blitar
Baca Juga : Pedasnya Bikin Nagih! Rica-Rica Menthok Semampir Kediri Diserbu Pemburu Kuliner

Masyarakat Blitar memiliki tradisi Baritan (doa dan makan bersama) yang biasa digelar saat menyambut bulan Suro atau Tahun Baru Islam. Yang unik dari tradisi ini adalah penggunaan takir plonthang, yakni paket nasi dan lauk-pauk yang ditempatkan dalam wadah daun pisang berbentuk persegi.
Umumnya takir berisi nasi dengan beragam lauk sederhana seperti telur dadar, ayam suwir, sambal goreng, mi goreng, hingga kering tempe. Saat Baritan jumlah takir yang dibawa disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga di rumah masing-masing.
Baca Juga : Tahu Tek Surabaya: Ikon Kuliner Malam yang Melegenda dan Selalu Dirindu
Takir pun dihiasi janur kuning yang ditancapkan di setiap sudutnya sebagai lambang tunas muda pohon kelapa yang dimaknai sebagai harapan baru, kehidupan baru, serta doa agar berbagai cita-cita dapat terwujud pada tahun yang akan datang.
Keistimewaan bulan Suro tidak hanya terlihat dari berbagai ritual dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini, tetapi juga melalui ragam kuliner yang hadir pada momen tersebut. Dari bubur sampai tumpengan masyarakat Jawa Timur memiliki cara masing-masing untuk menyambut tahun baru Jawa.
Meski berbeda bentuk dan penyajiannya, ketiga tradisi kuliner tersebut memiliki makna yang sama, yakni ungkapan rasa syukur, kebersamaan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















