SURABAYA - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 8 Universitas Airlangga Surabaya, menggelar program edukasi Digital Integrity & Anti-Kekerasan Seksual (TPKS) di SMK PGRI 4 Surabaya, Kamis (30/7/2026).
Program yang mengusung metode peer leadership ini menyasar 39 peserta yang terdiri dari jajaran fungsionaris OSIS serta seluruh Ketua Kelas 10 dan 11. Kegiatan ini dirancang khusus untuk mencetak pemimpin sebaya yang mampu menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari tindakan pelecehan siber. Integritas Digital dan Pelindungan Karir Masa Depan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN BBK 8 Unair, Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa program edukasi kesehatan reproduksi ini difokuskan pada penguatan etika komunikasi digital.
"Program Sex Education kali ini difokuskan pada pembangunan integritas digital dan pencegahan kekerasan seksual berbasis cyber. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa SMK tentang etika komunikasi digital serta batasan candaan di ruang publik seperti grup kelas ataupun tongkrongan," terang Prof. Ferry Efendi.
Langkah ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SMK PGRI 4 Surabaya, Agastya Catur Susilistyo, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas inisiatif mahasiswa yang dinilai sangat kontekstual bagi siswa vokasi.
"Terima kasih sudah memilih anak-anak tercinta kami. Tentunya edukasi ini sangat penting untuk mereka yang sedang disiapkan melangkah ke dunia kerja" ungkap Agastya Catur Susilistyo, S.Pd.
Senada dengan hal tersebut, guru sekaligus Pembina Siswa SMK PGRI 4 Surabaya, Anjik Famuji, S.T., menekankan pentingnya kesadaran rekam jejak digital (digital footprint) dalam proses rekrutmen Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
"Kami mewakili pihak sekolah mengucapkan ribuan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa atas program edukasi digital ini. Era digital ini sangat terkait dengan jejak digital anak-anak kami, sehingga materi ini sangat penting dan bermanfaat. Anak-anak SMK nantinya dipersiapkan untuk jenjang mencari pekerjaan setelah lulus," tegas Anjik Famuji, S.T.

Agar materi tidak berhenti sebagai teori hafalan belaka, mahasiswa BBK 8 Unair Surabaya merancang metode belajar interaktif bertahap (berbasis Taksonomi Bloom) yang berfokus mencapai tingkat penerapan (applying). Siswa tidak hanya diajak mengingat dan memahami aturan hukum, tetapi langsung ditantang mempraktikkan etika siber dan konsep saling menghargai (consent) melalui diskusi kelompok. Mereka membedah enam contoh kasus nyata di kehidupan sehari-hari—mulai dari pembatasan peran gender saat praktik di bengkel, maraknya stiker WhatsApp vulgar, hingga risiko di-blacklist perusahaan akibat ucapan tidak sopan di grup chat. Cara ini mengajak para peserta untuk mempraktikkan pemahaman mereka secara langsung dalam situasi yang realistis.
Untuk membangun semangat sekaligus mengunci pemahaman siswa pada ranah ingatan (Remembering), tim mahasiswa membagikan media edukasi visual berupa stiker kustom Nutrition Facts bertajuk "Calon Orang Sukses" dan gantungan kunci edisi khusus bertuliskan "R 3SP3 CT". Aksesori yang dapat ditempelkan pada helm, sepeda motor, laptop, maupun ponsel ini berfungsi sebagai pendorong motivasi sekaligus pengingat harian (daily visual reminder). Harapannya, setiap kali melihat barang-barang tersebut, para siswa selalu teringat untuk menjaga sopan santun digital dan menghormati sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan kombinasi belajar-praktik dan media pengingat visual ini terbukti nyata secara angka evaluasi. Berdasarkan tes pemahaman sebelum dan sesudah acara (pre-test dan post-test), nilai rata-rata peserta mengenai etika grup chat dan UU TPKS melonjak dari 77,93 menjadi 98,62 dari skala 100.
Secara perhitungan tingkat efektivitas pembelajaran (Normalized Gain/N-Gain), program ini mengantongi skor 0,94—angka yang masuk dalam kategori Sangat Efektif dengan kenaikan pemahaman mencapai 26,55%.
Wakil Ketua OSIS SMK PGRI 4 Surabaya, Kaka, menyambut positif manfaat dan pengalaman yang didapatkan.
"Saya mewakili teman-teman mendapatkan banyak pengalaman, wawasan, dan ilmu baru dari kakak-kakak UNAIR. Terima kasih sudah memilih sekolah kami. Sebagai Wakil Ketua OSIS, saya sangat berterima kasih atas kolaborasi hari ini. Sukses terus untuk program-programnya, semoga bisa sampai ke tingkat internasional," tutur Kaka.
Melalui pembekalan ini, para pengurus OSIS dan ketua kelas kini siap bertindak sebagai pendamping sebaya (peer educators) yang berani menegur dan meluruskan tindakan menyimpang di lingkungan sebayanya. Harapannya, kesadaran etika digital ini tidak berhenti di ruang kelas saja, tetapi menjadi budaya yang terbawa hingga para siswa lulus dan memasuki dunia kerja. Dengan begitu, SMK PGRI 4 Surabaya dapat terus melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara keterampilan keahlian, tetapi juga memiliki integritas moral tanpa rekam jejak digital yang negatif. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















