SIDOARJO - Di tengah gempuran modernisasi, ada satu sudut di Kabupaten Sidoarjo yang masih setia menjaga tradisi leluhurnya. Sudut tersebut adalah Dusun Tlocor, sebuah perkampungan kecil di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon—tempat sungai, perahu, dan tumpeng menyatu dalam perayaan syukur tahunan yang dikenal sebagai Sedekah Bumi atau Ruwat Desa. Bagi para pencinta wisata budaya yang mencari pengalaman autentik dan hangat, tradisi tahunan pada bulan Sura ini patut menjadi salah satu destinasi kunjungan utama.
Jauh sebelum arak-arakan dan alunan musik bergema, hajatan tradisi ini telah dimulai dari dapur-dapur rumah warga. Sejak pagi buta, para ibu di setiap RT berkumpul menanak nasi, mengolah lauk, serta menyusun tumpeng menggunakan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap elemen tumpeng menyimpan filosofi mendalam. Sayur urap-urap dan kulupan melambangkan kehidupan yang damai serta penuh rasa syukur, kangkung menjadi simbol perlindungan (jinangkung), bayam merepresentasikan ketenteraman, kacang panjang merupakan doa untuk umur panjang dan kepanjangan akal, sementara daun pepaya menjadi pengingat agar manusia senantiasa sabar menghadapi getirnya ujian hidup. Selain tumpeng, warga juga menyiapkan sesaji berupa jajan pasar sebagai lambang cikal bakal kehidupan, serta jenang sura sebagai penanda datangnya bulan penuh berkah.
Puncak kekhidmatan tradisi ini berlangsung di tepi Kali Lumut. Di tempat tersebut, para sesepuh dusun dan perangkat desa berkumpul sebelum menyeberangi sungai menggunakan perahu menuju Punden Kayu Anak, yakni situs yang diyakini sebagai titik awal babat alas dusun oleh para leluhur. Di tempat itu, doa-doa dipanjatkan sebagai wujud bakti kepada para pendahulu yang telah membuka jalan bagi kehidupan generasi penerus. Nuansa spiritual yang berpadu dengan alunan doa berbahasa Jawa halus menghadirkan pengalaman religius yang mendalam bagi siapa pun yang menyaksikan.
Setelah prosesi doa di punden usai, rangkaian kegiatan dilanjutkan ke prosesi paling ikonis, yakni larung sesaji di Kali Tlocor. Sesaji yang telah disiapkan dilepaskan mengikuti arus sungai sebagai simbol pelepasan hal-hal buruk dan permohonan agar warga senantiasa dijauhkan dari marabahaya. Filosofi dari prosesi ini mengajarkan bahwa jalan kehidupan harus terus mengalir dengan rasa welas asih, penuh syukur, dan senantiasa selaras dengan alam sekitar. Larung sesaji bukan sekadar tontonan visual, melainkan pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kebudayaan.
Baca Juga : Harlah 1 Abad NU: Stadion Gajayana Malang Siap Sambut Ratusan Ribu Jemaah Mujahadah Kubro
Jika prosesi punden dan larung sesaji sarat akan kekhidmatan, suasana pada malam hari berubah menjadi pesta rakyat yang semarak. Setiap RT tampil membawakan tumpeng hias serta hasil kreativitas masing-masing dalam kirab karnaval menuju Bunderan Tlocor. Wajah-wajah warga yang dihias, iring-iringan di sepanjang jalan dusun, hingga tarian bersama menjadi bukti nyata eratnya kebersamaan lintas generasi. Alunan musik menggema menghidupkan suasana malam, mempertemukan warga senior dan pemuda dalam satu ruang perayaan. Rangkaian acara ini biasanya ditutup di Dermaga Wisata Bahari Tlocor yang sekaligus menjadi ajang bagi UMKM setempat untuk memasarkan produk lokal sebagai bentuk gotong royong menggerakkan roda perekonomian desa.
Sedekah Bumi Tlocor bukan sekadar rangkaian ritual adat biasa, melainkan potret utuh dari masyarakat yang terus menjaga keseimbangan antara rasa syukur kepada Sang Pencipta, penghormatan kepada leluhur, dan solidaritas antarwarga. Tradisi ini rutin digelar setiap bulan Sura atau Muharram di Dusun Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Untuk menikmati pengalaman secara utuh, pengunjung disarankan datang sejak pagi hari guna menyaksikan pembuatan tumpeng, dilanjutkan dengan mengikuti prosesi perahu menuju punden pada siang hari, serta menikmati kemeriahan kirab karnaval saat malam tiba. Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, masyarakat lokal tetap teguh menjaga warisan leluhur dan terbuka menyambut siapa saja yang ingin merasakannya.
Editor : Iwan Iwe



















