Menu
Pencarian


Revitalisasi Sekolah dalam Perspektif Pendidikan Humanis

Portaljtv.com - Senin, 13 Juli 2026 12:01
Revitalisasi Sekolah dalam Perspektif Pendidikan Humanis
Markus Fatubun

Di berbagai tempat akhir-akhir ini, banyak spanduk bertuliskan “Revitalisasi Sekolah” kerap terpasang di depan bangunan sekolah yang sedang direnovasi. Dinding lama dirobohkan, atap bocor diganti, lantai keramik dipasang, dan laboratorium komputer dibangun. Dari luar, hasilnya memang tampak memukau. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah revitalisasi fisik semata sudah cukup untuk melahirkan pendidikan yang benar-benar bermakna bagi anak bangsa saat ini?

Pemerintah kita saat ini telah mengalokasikan triliunan rupiah untuk program revitalisasi sekolah dalam beberapa dekade terakhir. Infrastruktur memang menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan. Ruang kelas yang panas, toilet yang tidak layak, dan perpustakaan tanpa buku bukan sekadar masalah estetika, melainkan persoalan martabat dan hak dasar siswa. Dalam konteks ini, investasi fisik adalah langkah yang benar dan mendesak.

Namun, persoalan yang sering luput dari perhatian adalah kecenderungan kita untuk merasa cukup puas pada perubahan yang tampak di permukaan saja. Dari pengamatan dan sharing dalam beberapa kali pertemuan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), sering kali proyektor sudah terpasang di ruang kelas, tetapi guru masih mengajar dengan metode ceramah atau penyampaian materi satu arah yang monoton. Laboratorium sekolah sudah dibangun megah, tetapi eksperimen nyata jarang dilakukan karena khawatir alat rusak. Koneksi internet sudah dipasang, tetapi lebih banyak digunakan untuk absen digital daripada eksplorasi pengetahuan dan sumber belajar.

Revitalisasi sejati seharusnya menyentuh tiga lapisan sekaligus: fisik, pedagogis, dan kultural. Lapisan fisik adalah yang paling mudah diukur dan ditampilkan oleh setiap sekolah. Lapisan pedagogis menyangkut bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa belajar, dan bagaimana kurikulum diterapkan. Sementara itu, lapisan kultural berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakini warga sekolah tentang spiritualitas yang menjadi pegangan dan arah dalam membentuk karakter.

Baca Juga :   Brain Rot dan Tantangan Screen Time Siswa

Sekolah perlu menjadi tempat yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, integritas, tanggung jawab, persaudaraan, dan spiritualitas. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dihidupi dalam budaya sekolah sehari-hari melalui keteladanan, kebiasaan, dan relasi yang sehat antarwarga sekolah.

Bagi sekolah-sekolah berbasis keagamaan, revitalisasi juga berarti menghidupkan kembali identitas dan spiritualitas bapak pendiri yang menjadi ciri khasnya. Sekolah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki iman yang matang, kepedulian terhadap sesama, kesederhanaan, serta semangat pelayanan. Spiritualitas yang dihidupi secara nyata akan menjadikan sekolah sebagai komunitas yang tidak hanya mendidik pikiran, tetapi juga membentuk hati setiap insan.

Jantung pendidikan di sekolah terletak pada interaksi pembelajaran yang mampu membentuk pengetahuan, karakter, dan cara berpikir siswa. Mengganti papan tulis kapur dengan smart whiteboard tidak akan mengubah apa pun jika guru masih menggunakan metode ceramah satu arah yang monoton. Revitalisasi jiwa berarti mengubah kelas dari tempat “mendengarkan ceramah” menjadi laboratorium diskusi. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber kebenaran, melainkan sebagai fasilitator yang memantik rasa ingin tahu dan keberanian siswa untuk berpendapat.

Baca Juga :   Revitalisasi Sekolah dalam Perspektif Pendidikan Humanis

Guru adalah penggerak utama dari jiwa sekolah. Kita tidak bisa mengharapkan pembelajaran yang kreatif dan penuh empati dari seorang guru yang ruang mentalnya habis terkuras untuk memikirkan cara bertahan hidup akibat kesejahteraan yang belum memadai. Revitalisasi jiwa sekolah menuntut pemerintah untuk terlebih dahulu memanusiakan para guru melalui kepastian kesejahteraan dan pelatihan kompetensi yang relevan dengan zaman, bukan sekadar pelatihan administratif.

Sekolah yang hidup adalah tempat setiap anak merasa aman secara fisik maupun psikologis. Revitalisasi ini berbentuk komitmen tanpa toleransi terhadap perundungan, intoleransi, dan kekerasan. Ketika sekolah berhasil membangun kultur yang inklusif, murid tidak akan pergi ke sekolah karena terpaksa atau takut pada absen, melainkan karena mereka merasa dihargai, diterima, dan didengar sebagai manusia.

Pada akhirnya, revitalisasi sejati terjadi bukan saat tukang bangunan meninggalkan lokasi, melainkan saat siswa mulai datang ke sekolah dengan rasa ingin tahu yang mendalam dan guru menyambutnya dengan semangat yang sama. Revitalisasi sekolah bukan hanya tentang membangun kembali gedung dan sistem, tetapi tentang menghidupkan kembali semangat pendidikan yang membentuk akal budi, menumbuhkan karakter, serta memanusiakan setiap pribadi demi masa depan yang lebih bermakna.

Baca Juga :   Di Balik Layar Gawai, Apa yang Hilang dari Sekolah?

Revitalisasi sekolah pada akhirnya merupakan revitalisasi harapan yang berakar pada spiritualitas hati: pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal budi, tetapi juga membentuk hati, memanusiakan sesama, dan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Oleh: Markus Fatubun, SMAK Frateran Surabaya

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.