Menu
Pencarian

PT JGU Kembangkan Kawasan Puspa Agro Jadi Jatim Hub Nusantara Gateway

Ayul Andhim - Kamis, 18 Juni 2026 15:30
PT JGU Kembangkan Kawasan Puspa Agro Jadi Jatim Hub Nusantara Gateway
Direktur Utama Jatim Grha Utama (JGU), Mirza Muttaqien. (Foto: Ayul Adhim)

SURABAYA - Pengembangan kawasan Jatim Hub Nusantara Gateway di kawasan Puspa Agro sebagai pusat layanan ekspor-impor terpadu berbasis karantina pertama di Indonesia terus dilakukan.

Guna mendukung operasional kawasan tersebut, akses jalan sepanjang 1,2 kilometer tengah dibangun dan ditargetkan tersambung pada Oktober 2026.

Jalan ini akan menunjang akses menuju Puspa Agro dan menambah kapasitas lalu lintas kontainer yang selama ini hanya lewat Jalan Sawunggaling.

Direktur Utama Jatim Grha Utama (JGU), Mirza Muttaqien, mengatakan pembangunan akses jalan tersebut menjadi bagian penting dalam optimalisasi kawasan Puspa Agro yang kini dikembangkan menjadi Jatim Hub Nusantara Gateway.

“Konsep yang kami kembangkan adalah optimalisasi Puspa Agro menjadi Jatim Hub Nusantara Gateway,” kata Mirza, Rabu (18/6/2026).

Menurutnya, Jatim Hub dirancang sebagai fasilitas kemudahan ekspor-impor berbasis karantina atau dry port berbasis karantina dan kepabeaan yang berfungsi sebagai gerbang keluar dan masuk komoditas nasional.

Keberadaan fasilitas tersebut sekaligus mendukung penguatan keamanan pangan, biosecurity, dan pengawasan lalu lintas komoditas hewan, ikan, serta tumbuhan.

“Fungsinya menjaga pintu masuk dan keluar barang sehingga aspek keamanan pangan, biosecurity, dan lainnya bisa terjamin,” ujarnya.

Mirza menjelaskan, gagasan pengembangan kawasan tersebut berawal dari diskusi antara Pemprov Jatim dan Badan Karantina Indonesia (Barantin). Dari pembahasan itu muncul kebutuhan menghadirkan fasilitas yang mampu meningkatkan keterterimaan produk ekspor Indonesia di pasar global.

Menurutnya, keberadaan Jatim Hub nantinya tidak hanya melayani komoditas asal Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Indonesia.

“Misalnya ada durian dari Palu atau kemiri dari daerah lain yang akan diekspor. Semua bisa melalui Jawa Timur. Barang-barang UMKM maupun koperasi juga bisa memanfaatkan fasilitas ini,” katanya.

Di kawasan tersebut nantinya tersedia fasilitas karantina, bea cukai, gudang penyimpanan, silo, chiller, hingga area depo.

“Setelah seluruh proses selesai baru dikirim ke Pelabuhan Tanjung Perak. Ini yang membedakan dengan pelabuhan lain,” ujarnya.

Sementara untuk kegiatan impor, pemeriksaan karantina dan kepabeanan tidak lagi dilakukan di pelabuhan, melainkan dipindahkan ke kawasan Jatim Hub.

“Barang dari kapal tidak dilakukan pemeriksaan karantina dan bea cukai di pelabuhan, tetapi di Jatim Hub,” katanya.

Mirza menuturkan, pengembangan kawasan ini juga didorong oleh meningkatnya arus peti kemas di Jawa Timur. Pada periode 2025 hingga 2026, pertumbuhan kontainer tercatat mencapai 11 persen.

Apabila tren tersebut terus berlanjut, kepadatan di pelabuhan diperkirakan akan semakin tinggi sehingga dibutuhkan fasilitas penyangga yang mampu memperlancar arus logistik.

“Pertumbuhan kontainer yang lewat Jawa Timur naik 11 persen. Kami ingin mengambil peluang pertumbuhan tersebut agar ekspor dan impor lebih lancar,” ungkapnya.

Targetnya, kawasan Jatim Hub bisa memfasilitasi sekitar 249 kontainer per hari untuk komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan yang wajib menjalani proses karantina.

Dengan hadirnya Jatim Hub, proses layanan diharapkan menjadi lebih cepat sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

“Keterterimaan produk akan meningkat dan daya saing Jawa Timur juga akan semakin kuat,” katanya.

Mirza mengatakan fasilitas yang dibangun di kawasan tersebut merupakan layanan keterpaduan pertama di Indonesia karena seluruh proses dilakukan dalam satu lokasi melalui sistem join inspection.

“Kami terkonfirmasi ini menjadi fasilitas pertama di Indonesia dengan layanan keterpaduan. Join inspection jadi satu. Laboratorium ada di sana, tindakan karantina ada di sana, dan bukan hanya karantina tetapi juga layanan lainnya,” ujarnya.

Terkait aksesibilitas, ia menjelaskan pembangunan jalan penghubung sepanjang 1,2 kilometer saat ini sedang dipercepat. Jalan tersebut nantinya mampu dilalui dua kontainer secara bersamaan.

Menurut informasi yang diterimanya dari Dinas PU Bina Marga Jatim, akses tersebut ditargetkan tersambung pada Oktober 2026 mendatang.

“Sedang proses pembangunan. Nanti jalannya lebar. Bahkan kontainer bisa dua-dua melintas. Menurut informasi dari Bina Marga, Oktober sudah nyambung. Panjangnya sekitar 1,2 kilometer,” katanya.

Saat ini aktivitas di kawasan tersebut masih berkisar 10 hingga 25 kontainer per hari karena kapasitas layanan karantina masih terbatas. Namun setelah seluruh fasilitas terbangun, kapasitas diperkirakan meningkat signifikan hingga ratusan kontainer per hari.

Selain layanan karantina dan bea cukai, kawasan Jatim Hub juga akan dilengkapi depo peti kemas, area parkir, fasilitas plug in listrik untuk kontainer berpendingin, serta sistem teknologi informasi yang terintegrasi.

“Semua layanan akan terhubung. Karantina, cukai, pelabuhan, hingga sistem IT berada dalam satu ekosistem sehingga proses logistik menjadi lebih efisien,” pungkasnya. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.