SURABAYA - Pernahkah tiba-tiba teringat masa sekolah, liburan keluarga, atau seseorang dari masa lalu hanya karena mendengar sebuah lagu? Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar perasaan biasa. Para peneliti menemukan bahwa musik memiliki hubungan yang sangat kuat dengan memori dan emosi manusia.
Musik sering hadir dalam berbagai momen penting kehidupan, mulai dari perayaan, perjalanan, hingga hubungan pertemanan dan percintaan. Karena itu, otak tidak hanya menyimpan melodi atau lirik sebuah lagu, tetapi juga pengalaman yang menyertainya.
Ketika lagu yang sama diperdengarkan kembali, otak dapat memunculkan kembali kenangan yang terkait dengan momen tersebut. Penelitian ahli saraf Petr Janata dari University of California menemukan bahwa musik mampu memicu memori autobiografis, yakni kenangan yang berkaitan dengan pengalaman pribadi seseorang. Area otak yang berperan dalam memori dan identitas diri bahkan ikut aktif saat seseorang mendengarkan lagu yang memiliki makna khusus baginya.
Selain memori, emosi juga memiliki peran penting dalam fenomena ini. Kenangan yang melibatkan emosi kuat cenderung tersimpan lebih lama dibandingkan peristiwa biasa. Karena musik sering menjadi latar berbagai pengalaman emosional, lagu tertentu dapat membangkitkan kembali perasaan senang, haru, rindu, bahkan sedih yang pernah dirasakan pada masa lalu.
Menariknya, banyak orang lebih mudah mengingat lagu yang mereka dengarkan saat remaja atau awal masa dewasa. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai reminiscence bump.
Penelitian yang dipimpin Kelly Jakubowski menemukan bahwa lagu-lagu yang populer ketika seseorang berusia sekitar 10 hingga 30 tahun lebih sering memicu kenangan autobiografis dibandingkan lagu dari periode kehidupan lainnya. Bahkan, puncak fenomena tersebut ditemukan pada usia remaja sekitar 14 tahun.
Itulah sebabnya lagu yang didengar saat masa SMA, lagu yang diputar ketika pertama kali jatuh cinta, atau lagu yang menemani perjalanan bersama keluarga sering terasa begitu spesial. Bukan karena lagunya semata, melainkan karena lagu tersebut telah menjadi penanda dari sebuah fase kehidupan yang berkesan.
Para peneliti menyebut musik sebagai salah satu pemicu memori yang paling efektif. Berbeda dengan foto atau tulisan, musik mampu mengaktifkan memori dan emosi secara bersamaan. Akibatnya, hanya dalam hitungan detik, seseorang bisa merasa seolah kembali ke masa lalu dan mengingat detail yang sudah lama terlupakan.
Mungkin itulah alasan mengapa beberapa lagu tidak pernah benar-benar menjadi lagu biasa. Di balik melodi dan liriknya, tersimpan potongan waktu, wajah, tempat, serta perasaan yang pernah menjadi bagian dari hidup seseorang.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















