SURABAYA - Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menggelar Wicara bertema Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa di kantor BBP Jatim, Jalan Gebang Putih, Sukolilo, Surabaya, Jum'at (27/2/2026).
Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui siaran langsung kanal YouTube Balai Bahasa Jawa Timur. Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap tanggal 21 Februari merupakan inisiatif global dari UNESCO untuk menjaga keberagaman bahasa dan budaya dunia.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Lukman Hakim selaku Maestro Bahasa Madura, Danang Wijoyanto, S.Pd., M.Pd., selaku Maestro Bahasa Jawa dan Nisa Zahrofa selaku Duta Bahasa Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Lukman Hakim memaparkan peran generasi muda penutur Bahasa Madura dalam membentuk masa depan multibahasa.
Sementara, Danang Wijoyanto, S.Pd., M.Pd., memaparkan peran generasi muda penutur Bahasa Jawa dalam membentuk masa depan multibahasa dan Nisa Zahrofa menyampaikan peran generasi muda penutur Bahasa Jawa dialek Osing dalam membentuk masa depan multibahasa.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa kondisi penggunaan bahasa ibu di Jawa Timur saat ini mengalami pergeseran.
"Berdasarkan kajian vitalitas bahasa daerah, penutur bahasa daerah cenderung lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari sehingga kondisi bahasa daerah berada pada kategori tidak aman," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui berbagai regulasi.
"Bisa melalui Peraturan Wali Kota, Peraturan Bupati, maupun Peraturan Daerah yang mengatur implementasi muatan lokal bahasa daerah di tingkat SD, SMP, dan SMA," tambahnya.
Ia mencontohkan program “Kamis Mlempis” di Kota Surabaya yang tertuang dalam Perwali Nomor 17 Tahun 2025, di mana setiap hari Kamis siswa SD dan SMP dibiasakan berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa generasi muda perlu menguasai bahasa ibu sebagai bahasa komunikasi sehari-hari tanpa mengabaikan penguasaan Bahasa Indonesia serta bahasa asing.
"Keseimbangan tersebut dinilai penting dalam membentuk generasi yang adaptif di tengah pendidikan multibahasa dan perkembangan digital," terangnya.
Balai Bahasa Jawa Timur mengadakan program revitalisasi dengan mengajak anak-anak untuk melestarikan bahasa daerah melalui kegiatan menulis aksara, membaca dan menulis puisi ataupun cerpen berbahasa daerah, serta kegiatan lainnya seperti stand-up comedy, tembang, dan parikan.
Kepala Balai Bahasa Jawa Timur berharap generasi muda tidak malu menggunakan bahasa ibu sebagai identitas budaya. Pelestarian bahasa daerah pun dapat dikolaborasikan dengan teknologi, seperti coding, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi agar semakin menarik dan relevan bagi generasi saat ini.
Ke depan, inovasi berbasis teknologi diharapkan mampu mendukung pembelajaran aksara dan bahasa daerah agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. (Hana Azhigah Shabirah)
Editor : M Fakhrurrozi



















