MALANG - Kabar baik datang dari Batu Secret Zoo yang merupakan bagian dari Jatim Park 2. Seekor bayi bekantan dilaporkan lahir melalui proses persalinan alami pada 30 Januari 2026.
Dokter hewan Batu Secret Zoo, Hanna Mitsuki, menyampaikan bahwa kelahiran ini menjadi yang ke-8 sejak program penangkaran dimulai pada 2024. Program tersebut merupakan bagian dari upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan satwa endemik Indonesia.
Dengan adanya kelahiran ini, total populasi bekantan di Batu Secret Zoo per April 2026 mencapai 10 ekor. Komposisi tersebut terdiri dari satu jantan dominan, empat betina, serta lima anakan.
Bekantan atau Nasalis larvatus merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan yang dikenal dengan ciri khas hidung panjang pada pejantan. Satwa ini hidup di kawasan hutan mangrove, rawa, dan sepanjang aliran sungai.
Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional, populasi bekantan di alam liar diperkirakan sekitar 25.000 ekor. Namun, jumlah tersebut terus mengalami tekanan akibat kerusakan habitat, alih fungsi lahan, serta perburuan.
Berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), bekantan telah berstatus Endangered (terancam punah) sejak tahun 2000. Status ini menunjukkan bahwa spesies tersebut menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar jika tidak dilakukan upaya perlindungan yang berkelanjutan.
Kelahiran bayi bekantan di Batu Secret Zoo dinilai menjadi salah satu indikator keberhasilan program penangkaran ex-situ. Selain sebagai upaya pelestarian, program ini juga berperan dalam edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Pihak pengelola juga terus memantau kondisi induk dan bayi bekantan untuk memastikan pertumbuhan yang optimal. Perawatan dilakukan secara intensif, termasuk pengaturan pola makan dan lingkungan yang menyerupai habitat aslinya.
Selain berperan dalam pelestarian, keberadaan bekantan di lembaga konservasi seperti Batu Secret Zoo juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat satwa endemik Indonesia yang jarang ditemui secara langsung di habitat aslinya. Melalui pendekatan edukatif ini, diharapkan kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan satwa dan lingkungan dapat terus meningkat.
Keberhasilan ini diharapkan dapat mendukung upaya konservasi jangka panjang, sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap perlindungan satwa langka di Indonesia. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















