PROBOLINGGO - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di Kota Probolinggo mulai berdampak pada sektor usaha. Salah satu yang merasakan dampak cukup besar adalah para pedagang ikan hias yang bergantung pada pasokan listrik untuk menjaga kualitas air dan kelangsungan hidup ikan.
Sejumlah pedagang mengaku resah karena seringnya pemadaman listrik membuat alat aerator dan pompa air tidak dapat berfungsi. Akibatnya, ikan-ikan hias yang berada di akuarium maupun kolam mengalami stres, lemas, bahkan berpotensi mati apabila pemadaman berlangsung dalam waktu lama.
Salah satu pedagang ikan hias, Novian Dimasyah (27), pemilik usaha ikan hias di Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo, mengaku hampir dua pekan terakhir dihantui kekhawatiran setiap kali jadwal pemadaman listrik bergilir diberlakukan.
Menurut Novian, beberapa jenis ikan hias yang dijualnya sangat bergantung pada pasokan oksigen dari aerator. Saat listrik padam, kadar oksigen di dalam air menurun sehingga membuat ikan mudah stres.
“Yang paling terasa itu ketika aerator mati. Ikan langsung terlihat gelisah, bergerak tidak normal, bahkan ada yang lemas. Kalau pemadaman terus berulang dan berlangsung lama, risikonya ikan bisa mati,” ujar Novian saat ditemui di kiosnya, Sabtu (20/6/2026) siang.
Ia menjelaskan, jenis ikan seperti koi, koki, discus, hingga arwana membutuhkan suplai oksigen yang stabil. Karena itu, pemadaman listrik menjadi ancaman serius bagi para pelaku usaha ikan hias.
“Ikan koi, discus, arwana itu sensitif. Kalau oksigen berkurang, ikan cepat stres. Apalagi kalau cuaca panas dan air tidak bersirkulasi, dampaknya lebih cepat terasa,” katanya.
Untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar, Novian terpaksa melakukan berbagai cara darurat. Salah satunya dengan mengurangi volume air di dalam akuarium agar kebutuhan oksigen ikan tidak terlalu tinggi selama listrik padam.
“Karena saya tidak punya genset, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengurangi separuh volume air. Selain itu kami terus memantau kondisi ikan dan memberikan vitamin supaya daya tahan ikan tetap terjaga,” tuturnya.
Novian mengaku metode tersebut hanya mampu mengurangi risiko, namun tidak sepenuhnya menjamin keselamatan ikan apabila pemadaman berlangsung berjam-jam.
“Kalau listrik padam lebih dari tiga jam, tetap saja ada ikan yang kondisinya drop. Kami harus terus mengawasi karena bisa sewaktu-waktu ada yang pingsan atau mati,” ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Abdul Hamid, pedagang ikan hias di kawasan Jalan Pahlawan, Kota Probolinggo. Menurutnya, dampak utama pemadaman listrik adalah meningkatnya tingkat stres pada ikan yang dipelihara di akuarium.
Beruntung, Hamid masih memiliki mesin genset yang bisa digunakan sebagai sumber listrik cadangan saat terjadi pemadaman.
“Kalau listrik padam, saya langsung menyalakan genset. Jadi aerator dan pompa tetap berjalan. Kalau tidak ada genset, tentu risikonya jauh lebih besar,” kata Hamid.
Meski demikian, penggunaan genset juga menambah biaya operasional usaha karena membutuhkan bahan bakar setiap kali listrik padam.
“Ada tambahan biaya untuk membeli BBM genset. Jadi tetap ada kerugian yang harus kami tanggung,” ujarnya.
Abdul berharap kondisi kelistrikan di wilayah Probolinggo segera kembali normal agar aktivitas usaha tidak terus terganggu.
“Kami berharap pasokan listrik segera stabil. Karena usaha ikan hias sangat bergantung pada listrik. Kalau pemadaman terus terjadi, pedagang kecil yang paling merasakan dampaknya,” pungkasnya.
Diketahui, pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Probolinggo dalam beberapa waktu terakhir rata-rata berlangsung hingga tiga jam. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik, termasuk pedagang ikan hias. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















