SURABAYA - Di tengah derasnya arus informasi dan modernisasi digital, masyarakat hari ini hidup dalam suasana yang sangat berbeda dibanding satu dekade lalu. Notifikasi datang setiap detik, linimasa media sosial terus bergulir tanpa henti, dan kabar negatif hampir selalu muncul di bagian teratas.
Dari sinilah muncul istilah doomscrolling, kebiasaan baru yang diam-diam mulai merasuki kehidupan masyarakat modern. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas membaca berita, tetapi telah menjadi pola konsumsi informasi yang berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan serta kelelahan mental masyarakat.
Laporan dari Reuters Institute (2023) menunjukkan 43% masyarakat global mengaku lebih sering terpapar berita bernada negatif setelah pandemi dibanding sebelum 2020. Di Indonesia, laporan Kominfo mencatat lonjakan konsumsi berita digital sebesar 35% selama periode 2020–2022, sebagian besar berkaitan dengan isu kesehatan dan krisis ekonomi.
Psikolog digital Universitas Indonesia, Mira Savira, menjelaskan bahwa “otak manusia sudah memiliki kecenderungan memprioritaskan ancaman. Ketika informasi negatif datang bertubi-tubi lewat gawai, respons kecemasan meningkat secara otomatis” (Savira, 2023).
Baca Juga : Me Time untuk Ibu Rumah Tangga: Bukan Egois, Tapi Perlu
Fenomena doomscrolling tidak hanya memengaruhi suasana hati dalam jangka pendek. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social Media & Mental Health, paparan berita negatif secara terus-menerus dapat memicu reaksi stres kronis yang menyerupai efek kelelahan mental jangka panjang (Davis & Thompson, 2022).
Di Jakarta, sejumlah layanan kesehatan mental mencatat kenaikan pasien dengan keluhan kecemasan, gangguan tidur, dan kesulitan konsentrasi.
Kepala Instalasi Psikologi RSUP Persahabatan, Ardian Putra, menyebutkan bahwa “banyak pasien datang dengan keluhan tidak bisa berhenti membaca berita buruk. Mereka tahu itu memicu cemas, tapi tetap melakukannya.” (Putra, 2023).
Baca Juga : Self Love dengan Solo Traveling, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
Fenomena ini mirip dengan pola adiksi digital. Semakin cemas seseorang merasa, semakin sering ia memeriksa gawai untuk memastikan dirinya aman. Namun bukannya menenangkan, berita yang dibaca justru menambah kecemasan. Siklus ini kemudian berulang tanpa disadari. Media sosial bekerja melalui algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa konten bernada negatif 2,7 kali lebih mungkin muncul di linimasa dibanding konten positif, karena memicu respons emosional yang lebih kuat (UC Digital Behavior Lab, 2021).
Berita kriminal, konflik politik, atau isu global seringkali mendapatkan interaksi tinggi, sehingga diprioritaskan oleh sistem. Akibatnya, pengguna terjebak dalam gelembung ketakutan, di mana dunia tampak jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya. Algoritma tidak membedakan informasi yang meresahkan atau yang bermanfaat. Jadi yang penting adalah perhatian, ujar peneliti media, Laila Prabowo, dalam wawancara yang dipublikasikan Media Watch Review (Prabowo, 2023).
Baca Juga : Memahami Hidden Depression: Kondisi Mental yang Jarang Orang Sadari
Doomscrolling tak hanya berdampak pada individu. Ketika jutaan orang terpapar berita negatif yang sama dalam waktu bersamaan, muncul apa yang disebut “kecemasan kolektif”. Hal ini terlihat dari meningkatnya kekhawatiran masyarakat akan isu-isu global seperti resesi, perubahan iklim, dan keamanan publik.
Studi dari WHO (2023) menyebutkan bahwa kecemasan kolektif dapat memperburuk kondisi kesehatan mental komunitas, menurunkan optimisme masyarakat, serta memicu perilaku impulsif seperti panic buying atau penyebaran informasi yang tidak akurat.
Di beberapa kota besar Indonesia, fenomena ini terlihat melalui meningkatnya diskusi bernada pesimistis di media sosial serta menurunnya minat masyarakat pada informasi edukatif yang dianggap kurang mendesak.
Baca Juga : Frugal Living: Rahasia Hidup Hemat untuk Kesehatan Mental Lebih Baik
Ketika jutaan orang mengalami doomscrolling, pada waktu yang sama terciptalah apa yang disebut WHO (2023) sebagai collective anxiety, kecemasan sosial yang muncul akibat paparan informasi negatif secara massal. Dampaknya terlihat dalam banyak aspek yaitu mulai dari meningkatnya pesimisme ekonomi, kesulitan fokus kerja, hingga kecenderungan mudah panik dalam menghadapi isu publik.
Fenomena ini juga memengaruhi dinamika sosial. Dalam berbagai diskusi publik, masyarakat menjadi lebih mudah tersulut oleh isu-isu sensasional, sementara kemampuan untuk melihat konteks yang lebih luas cenderung menurun. Hal ini menjadi tantangan baru bagi pemulihan kesehatan mental pascapandemi, karena masyarakat bukan hanya berjuang pulih secara fisik, tetapi juga emosional.
Fenomena doomscrolling mengajarkan bahwa kecemasan masyarakat bukan hanya dipengaruhi oleh peristiwa besar, tetapi juga oleh bagaimana informasi disajikan dan dikonsumsi setiap hari. Krisis pandemi memang telah berlalu, tetapi pola konsumsi informasi yang tercipta masih meninggalkan jejak panjang pada kesehatan mental.
Baca Juga : Pemerintah Luncurkan Skrining Kesehatan Mental Gratis, Begini Cara Ikutannya
Daftar Pustaka
Davis, K., & Thompson, L. (2022). Digital Overexposure and Anxiety Response. Journal of Social Media & Mental Health, 9(2), 45–58.
Kominfo. (2022). Laporan Konsumsi Media Digital di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Prabowo, L. (2023). “Algoritma dan Perilaku Pengguna.” Media Watch Review, Edisi April.
Putra, A. (2023). Laporan Instalasi Psikologi RSUP Persahabatan: Pengaruh Konsumsi Berita Berlebih. Jakarta.
Reuters Institute. (2023). Digital News Report. Oxford University.
Savira, M. (2023). Wawancara Program Edukasi Psikologi Digital. Universitas Indonesia.
UC Digital Behavior Lab. (2021). Emotional Bias in Algorithmic Content Distribution. University of California.
WHO. (2023). Mental Health in the Post-Pandemic Digital Era. World Health Organization.
Penulis :
Gusti Ayu Silvia Puspita Dewi, Bawinda Sri Lestari dan Inka Sukma Melati
Editor : M Fakhrurrozi



















