JOMBANG - Industri alas kaki terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya permintaan pasar. Melihat peluang tersebut, UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Jombang hadir memberikan solusi melalui pelatihan menjahit bagian atas sepatu (upper) yang kini menjadi salah satu program unggulan.
Dalam program “Ruang Karir” yang tayang di JTV pada Rabu (4/3/2026), dibahas bagaimana pelatihan ini tidak hanya menjadi jembatan bagi masyarakat untuk bekerja di pabrik, tetapi juga memantik semangat kewirausahaan mandiri.
Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi UPT BLK Jombang, Eko Putro Harpiy, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di sentra industri alas kaki, seperti Mojokerto dan sekitarnya.
“Alas kaki adalah kebutuhan lintas generasi. Kami membuka pelatihan ini untuk menyiapkan tenaga kerja yang benar-benar siap pakai di industri,” ujar Eko. Setiap angkatan diikuti oleh 16 peserta dengan durasi 220 jam pelajaran selama satu bulan. Menariknya, tingkat penyerapan alumni mencapai angka hampir 100 persen, baik yang terserap di pabrik maupun yang merintis usaha sendiri.
Salah satu alumni yang telah merasakan manfaat pelatihan adalah Suryani, peserta angkatan tahun 2022. Awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang pembuatan sepatu, ia kini mampu mandiri menjalankan usaha home industry menjahit sepatu.
“Dulu saya awam sekali. Setelah ikut pelatihan satu bulan, saya bisa menjahit bagian atas sepatu sendiri,” tuturnya. Bersama suaminya, Suryani kini menjalin kemitraan dengan industri besar di Mojokerto untuk mengerjakan bahan setengah jadi di rumah. Usaha ini bahkan telah membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Tingginya antusiasme warga terlihat dari jumlah pendaftar yang sering menembus angka 300 orang per periode, sementara kuota yang tersedia sangat terbatas. Untuk menjaga kualitas, BLK Jombang menerapkan seleksi ketat melalui tes administrasi, tes tertulis berbasis komputer, hingga wawancara.
Selain keterampilan teknis menjahit, peserta juga dibekali materi Fisik, Mental, dan Disiplin (FMD), etika kerja, hingga manajemen keuangan untuk menunjang kemandirian mereka.
Eko menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan bukan sekadar mencetak buruh industri, melainkan membangun jiwa mandiri masyarakat. “Tidak semua orang harus menjadi karyawan. Banyak alumni yang mampu membuka usaha sendiri seperti Bu Suryani. Yang terpenting adalah niat dan ketekunan,” tutupnya. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















