SURABAYA - Sebagai bangsa maritim yang tengah mempersiapkan diri menghadapi bonus demografi, sungguh sebuah anomali manakala Indonesia masih harus menghadapi problematika malnutrisi pada anak-anak. Di tengah masifnya penetrasi makanan cepat saji (fast food) dan pangan ultra-proses, kekhawatiran publik terhadap pemenuhan nutrisi esensial bagi generasi penerus telah bertransformasi menjadi isu krusial yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Tanpa disadari, pola konsumsi masyarakat mengalami pergeseran di mana asupan gizi seimbang kian tergantikan oleh alternatif pangan praktis yang secara esensial sangat minim nutrisi. Meskipun demikian, di tengah urgensi untuk menyukseskan program-program strategis pemerintah, terdapat solusi fundamental dari tantangan darurat nutrisi ini yang sejatinya berenang bebas di perairan lokal nusantara.
Dalam diskursus publik mengenai ketahanan pangan dan intervensi gizi, komoditas ikan gabus sejatinya memiliki potensi strategis yang mutlak perlu direkognisi sebagai superfood lokal. Mengarusutamakan utilisasi komoditas perikanan darat seperti ikan gabus bukan sekadar upaya pemenuhan lauk-pauk konvensional di meja makan, melainkan sebuah pilar esensial dalam rancang bangun strategi ketahanan pangan yang vital.
Secara klinis dan biokimia, keistimewaan ikan gabus memberikan signifikansi yang tidak dapat diabaikan. Spesies ikan air tawar ini memiliki kandungan albumin dalam jumlah yang sangat tinggi. Albumin merupakan protein esensial yang memiliki fungsi krusial dalam mekanisme fisiologis tubuh, mulai dari mengangkut hormon, mengakselerasi proses penyembuhan luka, hingga memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan. Kandungan esensial inilah yang memposisikan ikan gabus sebagai fondasi vital bagi optimalisasi masa pertumbuhan anak, sekaligus menjadi senjata pamungkas untuk menekan angka stunting di Tanah Air.

Eka Saputra SPi MSi, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga
Kendati memiliki profil nutrisi yang superior, optimalisasi komoditas ini kerap berbenturan dengan hambatan sosiokultural berupa stigma di masyarakat; di mana sajian ikan sering kali dianggap amis, membosankan, atau tidak memiliki daya tarik visual di mata anak-anak. Untuk mendekonstruksi hegemoni makanan cepat saji yang telah terinternalisasi, imbauan konsumsi ikan harus dibarengi dengan inovasi terapan di sektor pengolahan pangan. Oleh karena itu, sangat direkomendasikan adanya langkah sistematis untuk melakukan diversifikasi olahan ikan gabus menjadi varian produk makanan yang ramah dan menarik bagi lidah anak-anak, seperti formulasi dimsum maupun otak-otak.
Ditinjau dari perspektif kebijakan publik dan ekonomi makro, hilirisasi produk perikanan pada skala rumah tangga ini berpotensi mengeskalasi multiplier effect yang luar biasa. Langkah diversifikasi dan hilirisasi produk semacam ini bukan sekadar trik pragmatis untuk mendongkrak nafsu makan anak-anak. Lebih dari itu, strategi ini sejalan dan mampu memberikan dukungan nyata terhadap program-program peningkatan gizi nasional yang sedang digalakkan pemerintah.
Apabila komoditas ikan gabus ini diserap secara terstruktur untuk menyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara tidak hanya akan mencetak generasi yang sehat secara kognitif dan fisik, tetapi secara simultan juga memberdayakan roda ekonomi para pembudi daya ikan dan pelaku UMKM di berbagai daerah.
Telah tiba saatnya bagi masyarakat untuk mengubah mindset terkait pemenuhan gizi. Terminologi superfood tidak selalu identik dengan bahan makanan impor yang menuntut biaya mahal dan sulit didapat.
Harta karun nutrisi itu sejatinya ada di sekitar kita. Dengan sentuhan kreativitas di dapur keluarga, intervensi kebijakan yang tepat sasaran, serta dukungan literasi gizi dari para akademisi, ikan gabus siap menjadi benteng pertahanan utama gizi generasi penerus bangsa. Mari jadikan perikanan lokal sebagai tulang punggung kedaulatan gizi Indonesia. (*)
Penulis:
Eka Saputra
Dosen Departemen Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Editor : M Fakhrurrozi



















