Menu
Pencarian

Mengoptimalkan Sektor Perikanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Portaljtv.com - Jumat, 8 Mei 2026 20:00
Mengoptimalkan Sektor Perikanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Siswa SMP di Surabaya makan makanan program MBG. (Foto: Istimewa)

Ringkasan & Perubahan Strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan janji politik utama pada Pemilu 2024, saat ini menghadapi tantangan realisasi serentak di seluruh daerah karena keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Agar program ini dapat berjalan berkelanjutan, pemerintah perlu mengalihkan fokus pada pemanfaatan sumber daya maritim, dan menempatkan sektor perikanan sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional.

Potensi Sumber Daya & Keunggulan Akuakultur Dengan luas wilayah laut mencapai 5,8 juta km persegi, potensi perikanan tangkap Indonesia mencapai 10,2 juta ton per tahun—menjadikannya yang terbesar kedua di dunia. Namun, potensi produksi yang lebih masif justru terletak pada sektor akuakultur (perikanan budidaya), yang saat ini mencetak angka 56,8 juta ton per tahun. Berbeda dengan peternakan atau pertanian darat, budidaya ikan tidak membutuhkan lahan yang luas, dapat diintegrasikan dengan mudah (integrated farming), dan proses panennya bisa dipercepat melalui kombinasi pakan alami dan formula.

Dampak Pemenuhan Gizi & Target Demografi Sektor perikanan menyumbang 60% dari total kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Protein ini bertindak sebagai katalis utama bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan sistem kekebalan tubuh. Menjadikan ikan sebagai komponen utama dalam program MBG sangat krusial untuk mengentaskan stunting sekaligus mempersiapkan generasi yang cerdas dan tangguh demi menyongsong bonus demografi Indonesia Emas 2045.

Hambatan Industri & Kebutuhan Optimalisasi Sebelum sektor perikanan dapat sepenuhnya menopang program MBG, terdapat beberapa inefisiensi dari hulu ke hilir yang harus segera diselesaikan:

Kurangnya Pemanfaatan & Pemrosesan di Atas Kapal:

Saat ini, baru 25% dari total potensi perikanan yang dimanfaatkan. Selain itu, armada nelayan kita belum menerapkan sistem processing on board. Memproses ikan langsung menjadi produk jadi di atas kapal akan sangat memangkas waktu produksi dan memotong biaya transportasi darat yang tidak perlu.

Biaya Logistik & Kesenjangan Teknologi:

Tingginya biaya rantai pasok dari area penangkapan ke pasar masih menjadi masalah besar, ditambah lagi belum optimalnya realisasi jalur tol laut. Pada sektor budidaya, minimnya adopsi teknologi modern (seperti IoT) dan manajemen yang efisien membuat biaya produksi dan harga jual ikan tetap tinggi.

Reorientasi Unit Pengolahan Ikan: Unit pengolahan ikan harus mulai mengalihkan fokus produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan lini produksi ini, terutama melalui pembaruan permesinan dan teknologi untuk menekan biaya operasional (cost) dengan tetap menjaga standar kualitas.

Pada akhirnya, efisiensi rantai produksi hulu hingga hilir merupakan kunci agar sektor perikanan mampu menyediakan protein berkualitas tinggi dengan harga yang murah dan terjangkau untuk menyukseskan program MBG. (*)

Penulis :

Terry Previo Avianto M.Si

Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.