SURABAYA - Suasana diskusi terbuka mewarnai perbincangan seputar rencana revitalisasi dan relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) pegirian yang dikemas dalam program “Rujak Suroboyo” tayang di JTV pada Kamis (22/1/2026), dengan menghadirkan masyarakat, pengelola RPH, perwakilan jagal sapi, serta DPRD Kota Surabaya dalam satu forum.
Isu relokasi RPH pegirian ke Tambak Osowilangun, Benowo, menjadi sorotan utama. Sejumlah jagal sapi menyampaikan kekhawatiran terkait potensi peningkatan biaya operasional serta dampak ekonomi yang ditimbulkan jika pemotongan dipusatkan di lokasi baru. Nilai historis RPH pegirian sebagai bangunan cagar budaya juga turut disinggung dalam pembahasan.
Direktur utama RPH Kota Surabaya, Fajar Arifianto Isnugroho, menjelaskan bahwa kondisi bangunan yang telah berusia hampir satu abad menjadi alasan utama rencana pemindahan.
“Lokasi baru dinilai lebih aman dan fasilitasnya telah disesuaikan dengan standar rumah potong hewan,” ujar Fajar.
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Buchori Imron, menyebut relokasi RPH merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka menengah daerah. Kawasan RPH pegirian direncanakan dikembangkan untuk mendukung kawasan wisata religi ampel.
“Pengembangan kawasan ini sudah masuk dalam perencanaan daerah,” jelas Buchori.
Sementara itu, perwakilan jagal sapi Surabaya, Abdullah Mansur menegaskan penolakan terhadap rencana relokasi. menurutnya, rph pegirian masih layak beroperasi dan kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil.
“Kami berharap ada solusi yang tidak merugikan para jagal,” tegas Abdullah.
Program Rujak Suroboyo diharapkan menjadi ruang penyerapan aspirasi publik sekaligus jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berdampak luas. (Amelia Ciello)
Editor : Iwan Iwe

















