Pelari ultramaraton asal Amerika Serikat, Rachel Entrekin, mencetak sejarah dalam ajang Cocodona 250 setelah menjadi perempuan pertama yang berhasil memenangkan perlombaan tersebut secara overall atau juara umum, mengalahkan seluruh peserta pria dan wanita. Dalam lomba ekstrem sejauh sekitar 250 mil atau lebih dari 400-kilometer itu, Rachel finis dengan catatan waktu 56 jam 9 menit 48 detik sekaligus memecahkan rekor tercepat sepanjang sejarah Cocodona 250.
Ajang Cocodona 250 sendiri dikenal sebagai salah satu ultramaraton paling berat di dunia. Rute lomba melintasi kawasan gurun dan pegunungan di Arizona, dimulai dari Gurun Sonoran, melewati Sedona, hingga menuju Flagstaff dengan total elevasi pendakian mencapai sekitar 38.800 kaki.
Prestasi Rachel pada 2026 melanjutkan dominasinya dalam tiga tahun terakhir. Pada debutnya di 2024, ia berhasil menjadi juara kategori perempuan dan finish di posisi ke-11 overall. Setahun kemudian, ia kembali memenangkan kategori perempuan sambil memecahkan rekor kategori wanita dengan catatan waktu 63 jam 50 menit 55 detik serta finis di posisi empat besar overall.
Tahun ini, Rachel tampil lebih dominan dengan mulai memimpin seluruh peserta sejak sekitar mil ke-50 dan mempertahankan posisi tersebut hingga garis akhir. Kemenangan itu sekaligus menjadikannya perempuan pertama yang mampu menyelesaikan lintasan Cocodona 250 dalam waktu kurang dari 60 jam.
Salah satu hal yang paling banyak disorot dari penampilannya adalah strategi minim istirahat selama perlombaan berlangsung. Rachel mengaku hanya tidur sekitar 19 menit selama hampir tiga hari lomba.
“Di suatu tempat sekitar mil ke-200, saya tertidur selama lima menit di pos bantuan,” kata Rachel dalam wawancara usai lomba.
“Lalu setelah menempuh sekitar 230 mil, saya tidur siang dua kali selama tujuh menit di lantai,” lanjutnya. Strategi tidur singkat tersebut ia sebut sebagai “dirt nap”.
Selain strategi istirahat, pola nutrisi Rachel juga menarik perhatian. Selama perlombaan, ia mengandalkan kombinasi gel energi, minuman elektrolit, nasi, kaldu, permen, hingga mashed potato (kentang tumbuk) untuk menjaga asupan kalori di tengah kondisi lintasan yang berat.
“Mashed potato adalah yang terbaik. Anda akan lelah mengunyah dan tidak ingin mengeluarkan energi ekstra untuk itu,” jelasnya.
Rachel juga diketahui menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit secara ketat selama lomba berlangsung. Ia mengonsumsi rata-rata sekitar 485 miligram natrium per jam dan sekitar 500 mililiter cairan per jam untuk menghadapi kondisi gurun Arizona yang ekstrem.
Di luar pencapaiannya sebagai atlet, Rachel memiliki latar belakang sebagai terapis fisik dan meraih gelar doktor di bidang terapi fisik pada 2016. Ia mulai serius menekuni dunia lari sejak mempelajari ilmu olahraga saat kuliah dan kini menetap di Colorado, meski berasal dari Birmingham, Alabama.
Rachel menyebut keberhasilan di ultramaraton bukan hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga kemampuan mental dalam menghadapi tekanan selama perlombaan.
“Dalam lomba seperti ini, yang terpenting bukan hanya kebugaran. Sikap dan kemampuan mengatasi stres sama pentingnya dengan kondisi fisik,” katanya.
Selain Cocodona 250, Rachel sebelumnya juga memenangkan Mammoth 200 pada 2025 tanpa tidur sama sekali selama perlombaan berlangsung. Setelah kemenangan terbarunya ini, Rachel disebut akan beristirahat sejenak sebelum kembali mengikuti ajang Ultra Trail du Mont Blanc di Chamonix. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















