Menu
Pencarian


Munas Tarjih XXXIII Muhammadiyah Bahas Fikih Lansia hingga Kedaulatan Pangan

Selvy Wang - Jumat, 6 November 2026 09:45
Munas Tarjih XXXIII Muhammadiyah Bahas Fikih Lansia hingga Kedaulatan Pangan
Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026). (Foto: Selvi Wang)

SURABAYA - Sebanyak 320 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026).

Tak hanya peserta dari Indonesia, tahun ini juga diikuti oleh peserta dari luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, dan Kamboja.

Dalam forum tersebut membahas lima agenda utama, yaitu Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT).

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan pembahasan tersebut mencerminkan kepedulian Muhammadiyah terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah kehidupan umat, masyarakat, bangsa, dan negara.

Menurutnya, tema besar Munas kali ini berkaitan dengan upaya meneguhkan akidah, memperindah akhlak, menguatkan ibadah, serta memberdayakan umat untuk membangun peradaban berkemajuan.

Salah satu isu yang menjadi perhatian ialah fikih lansia. Haedar menilai pembahasan ini penting seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan bagi kelompok lanjut usia dari berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, Muhammadiyah turut membahas kedaulatan pangan sebagai persoalan strategis bangsa. Haedar mengapresiasi perkembangan positif dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional, termasuk capaian swasembada beras.

"Ke depan tentu bagaimana kebijakan-kebijakan negara lebih bagus lagi mengenai pertanian dan basic pangan kita," jelas Haedar.

Ia menegaskan, kemandirian pangan harus diikuti kemampuan bangsa mengelola kekayaan alam secara bertanggung jawab. Potensi sumber daya alam yang besar perlu diolah dengan prinsip kedaulatan dan kemaslahatan masyarakat.

"Karena kalau tidak, kita ini dengan penduduk 281 juta tapi kekayaan alam yang sebenarnya besar, kita tidak bisa mengolah alam ini dengan kemandirian dan kedaulatan kita, jika bangsa kita juga tidak punya kemampuan, termasuk generasi mudanya tidak punya karakter yang kuat," ujarnya.

Ia menambahkan, Muhammadiyah berkomitmen membangun umat dan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta pencerahan keagamaan.

Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menjelaskan Munas Tarjih XXXIII juga memiliki makna historis karena diselenggarakan di Surabaya, kota kelahiran KH Mas Mansur.

KH Mas Mansur merupakan Pahlawan Nasional sekaligus Ketua Majelis Tarjih pertama pada 1927. Menurut Ustadi, pelaksanaan Munas di Surabaya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat dan legasi perjuangan tokoh Muhammadiyah tersebut.

"Isu-isu yang berkembang akan kita sambungkan dengan spirit KH Mas Mansur yang luar biasa menggerakkan Muhammadiyah, menggerakkan bangsa untuk terus berkembang maju sebagai bangsa yang bermartabat dan terhormat," ungkapnya.

Dari lima agenda yang dibahas, Risalah Akidah Islam diarahkan untuk merumuskan pemahaman akidah Muhammadiyah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunah serta mencerminkan karakter Islam Berkemajuan.

Ustadi menegaskan Muhammadiyah perlu memiliki rumusan akidah yang menunjukkan kekhasan pandangannya sekaligus menjadi landasan pemahaman keislaman yang kokoh dan relevan dengan perkembangan zaman.

Agenda berikutnya ialah Risalah Akhlak Islam Praktis sebagai pengembangan dari Risalah Akhlak Islam Filosofis. Rumusan ini diharapkan dapat menerjemahkan prinsip-prinsip akhlak Islam ke dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun dalam pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT), salah satu persoalan yang dibahas ialah hukum taswib, yakni bacaan al-shalātu khairum minan naum dalam azan Subuh.

Selain sidang komisi, Munas Tarjih XXXIII juga menghadirkan seminar tentang kedaulatan pangan serta legasi KH Mas Mansur dalam bidang tarjih, kebangsaan, sosial, dan budaya.

Peserta juga dijadwalkan mengikuti Muhammadiyah Heritage Walk atau napak tilas perjalanan perjuangan KH Mas Mansur di Surabaya. Rute dimulai dari Masjid KH Mas Mansur, dilanjutkan ke rumah beliau, kemudian berakhir di makam KH Mas Mansur.

Ustadi menjelaskan, kunjungan ke makam tersebut menjadi kesempatan untuk mendoakan sekaligus mengambil inspirasi dari gagasan dan perjuangan tokoh Muhammadiyah itu. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.