Menu
Pencarian

Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral? Ini Sejarah dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa

Portaljtv.com - Rabu, 17 Juni 2026 17:57
Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral? Ini Sejarah dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa
Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng di Yogyakarta.

SURABAYA - Malam 1 Suro kembali menjadi perhatian masyarakat Jawa setelah berbagai ritual dan kegiatan budaya digelar di sejumlah daerah. Mulai dari kirab pusaka, tirakat, hingga ziarah makam, rangkaian kegiatan tersebut masih dilakukan setiap tahunnya.

Kepercayaan mengenai kesakralan bulan Suro telah diwariskan secara turun-temurun. Namun, bagaimana sebenarnya awal mula bulan Suro dianggap sakral oleh masyarakat Jawa?

Sejarah Bulan Suro

Dilansir dari buku Misteri Bulan Suro: dalam Perspektif Islam , tradisi Malam 1 Suro tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Kala itu, Sultan Agung berupaya menyatukan penanggalan Saka yang berasal dari tradisi Hindu dengan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam sebagai bagian dari proses akulturasi budaya dan penyebaran Islam di tanah Jawa.

Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Sementara itu, nama Suro berasal dari kata Asyura dalam bahasa Arab yang berarti "sepuluh", merujuk pada tanggal 10 Muharam yang memiliki keistimewaan dalam tradisi Islam.

Kenapa Suro Dianggap Sakral?

Bulan Suro dianggap sakral karena masyarakat Jawa tidak hanya memandangnya sebagai pergantian tahun semata. Bulan ini dimaknai sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Selain dimaknai sebagai momentum refleksi diri, sebagian masyarakat Jawa juga meyakini bulan Suro sebagai bulan yang agung dan mulia. Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan berbagai pantangan yang masih dikenal hingga saat ini, seperti larangan menggelar pernikahan atau hajatan besar pada bulan Suro.

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro kerap dianggap sebagai waktu ketika batas antara dunia manusia dan dunia gaib menjadi lebih dekat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kepercayaan ini membuat sebagian masyarakat memilih untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan menghindari kegiatan yang dianggap berisiko mendatangkan kesialan.

Dikutip dari Jurnal Tradisi Upacara Satu Suro dalam Perspektif Islam oleh UIN Raden Intan Lampung, bulan Suro juga dipandang sebagai awal penanggalan bagi jagad gaib, mencakup alam para leluhur, makhluk halus, hingga berbagai entitas supranatural yang diyakini hidup berdampingan dengan manusia.

Karena kesakralan itu berbagai ritual Malam 1 Suro masih dilaksanakan di berbagai daerah di Pulau Jawa, mulai dari jamasan pusaka, ruwatan, hingga tapa brata. Di lingkungan keraton, peringatan Malam 1 Suro juga menjadi agenda budaya yang selalu menarik perhatian masyarakat.

Keraton Yogyakarta misalnya, rutin menggelar Lampah Budaya Mubeng Beteng, sementara Keraton Surakarta Hadiningrat menyelenggarakan kirab pusaka yang diikuti Kebo Bule Kyai Slamet. Berbagai tradisi tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya Suro masih dijaga dan dilestarikan lintas generasi hingga saat ini. (luluk listiani)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.