PROBOLINGGO - Harga daging ayam broiler di sejumlah pasar tradisional Kota Probolinggo turun sekitar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram dalam sepekan terakhir. Sejumlah pedagang menilai penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
Pantauan portaljtv.com di Pasar Baru Kota Probolinggo, Kamis (2/7/2026), harga daging ayam broiler kini berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga ayam berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp40 ribu per kilogram di sejumlah pasar.
Penurunan harga tersebut mendorong meningkatnya pembelian ayam oleh masyarakat. Sejak pagi, lapak pedagang ramai didatangi pembeli. Bahkan, stok ayam di sejumlah pedagang habis sebelum pukul 10.00 WIB.
Erni, salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Baru, mengaku penurunan harga terjadi sejak program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah.
"Sekarang harganya Rp30 ribu per kilogram. Sebelumnya bisa Rp38 ribu, bahkan ada yang Rp40 ribu. Turunnya hampir Rp10 ribu," ujar Erni.
Menurutnya, harga yang turun membuat pembeli berdatangan lebih banyak dibandingkan saat harga masih tinggi.
"Kalau sekarang jualan lebih cepat habis. Rata-rata bisa laku sekitar 10 kilogram sehari. Jam 10 pagi banyak pedagang sudah tutup karena stoknya habis," katanya.
Hal senada disampaikan Mistia, pedagang ayam lainnya. Ia menilai permintaan dalam jumlah besar dari penyedia MBG saat program berjalan ikut memengaruhi harga ayam di pasaran.
"Waktu MBG berjalan, permintaan memang tinggi sehingga harga ikut naik. Sekarang setelah libur, permintaannya turun dan harga kembali turun. Kalau langganan saya kasih harga 28 ribu," ungkap Mistia.
Turunnya harga ayam juga dirasakan pelaku usaha kuliner. Rukmawati, penjual ayam geprek asal Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, mengaku biaya produksi usahanya menjadi lebih ringan.
"Sekarang lebih enak belanja karena harga ayam turun. Biasanya sekali belanja saya membeli tiga sampai lima kilogram untuk kebutuhan jualan," ujar Rukmawati.
Meski demikian, ia berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar tidak memicu gejolak harga bahan pangan.
"Harapan kami program MBG bisa dikaji lagi supaya harga kebutuhan pokok tetap stabil. Kalau harga terlalu tinggi, masyarakat kecil juga yang kesulitan," tuturnya.
Pedagang berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis dan stabilitas harga pangan agar tidak terjadi fluktuasi harga yang berdampak pada peternak, pedagang, pelaku usaha kuliner, maupun masyarakat sebagai konsumen. (*)
Editor : A. Ramadhan



















