Oleh: Siti Komariyah
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki kekayaan kosakata dan variasi yang beragam. Meskipun digunakan oleh masyarakat yang sama-sama berlatar budaya Jawa, bahasa Jawa tidak selalu memiliki makna yang sama di setiap daerah. Perbedaan wilayah, kebiasaan masyarakat, serta perkembangan budaya dapat menyebabkan satu kata memiliki makna yang berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Salah satu contoh menarik terdapat pada kata ‘ikan’. Bagi sebagian besar penutur bahasa Jawa standar, kata ‘ikan’ memiliki makna yang sama dengan bahasa Indonesia, yaitu hewan air, biasanya bersisik, bernapas dengan insang, misalnya ikan mujair, ikan nila, ikan bandeng, dan sebagainya. Dalam penggunaan sehari-hari, apabila seseorang mengatakan aku mangan lawuh iwak nila. Artinya adalah saya makan dengan lauk ikan nila.
Namun, makna kata ‘ikan’ mengalami perluasan dalam bahasa Jawa dialek Surabaya. Bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya, kata iwak tidak hanya merujuk pada hewan air, tetapi dapat bermakna lebih luas, yaitu lauk atau pendamping makan nasi. Dengan demikian, berbagai jenis makanan yang digunakan untuk lauk makan nasi dapat disebut iwak, baik berupa ikan, tempe, tahu, ayam, daging, maupun lauk lainnya.
Misalnya, seseorang di Surabaya mengatakan, ‘Aku mangan ambek iwak tempe’.
Bagi penutur bahasa Jawa standar, kalimat tersebut mungkin terdengar unik karena tempe bukanlah ikan. Namun, bagi penutur Jawa Surabaya, kalimat itu bermakna ‘Saya makan dengan lauk tempe’. Begitu pula ketika seseorang mengatakan ‘Aku mangan ambek iwak ayam’, yang dimaksud bukan ayam sebagai jenis ikan, melainkan ayam sebagai lauk makanan.
Perbedaan makna tersebut menunjukkan adanya perkembangan makna kosakata iwak. Dalam kajian kebahasaan, perubahan semacam ini disebut sebagai perluasan makna, yaitu ketika sebuah kata yang semula memiliki arti tertentu kemudian digunakan untuk makna yang lebih luas. Pada bahasa Jawa Surabaya, kata iwak mengalami perluasan dari makna khusus ‘ikan’ menjadi makna umum yaitu ‘lauk’.
Hal ini membuktikan bahwa bahasa selalu hidup dan berkembang mengikuti masyarakat penuturnya seiring waktu. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan cara pandang dan kebiasaan kelompok masyarakat. Pilihan kata yang digunakan masyarakat Surabaya menggambarkan budaya makan sehari-hari yang menempatkan berbagai jenis makanan pendamping nasi dalam satu kategori, yaitu iwak.
Perbedaan makna kata seperti ikan dalam bahasa Jawa standar dan bahasa Jawa Surabaya tidak perlu dianggap sebagai kesalahan berbahasa. Perbedaan tersebut justru menunjukkan kekayaan bahasa Jawa yang memiliki banyak variasi dan keunikan. Keberagaman itulah yang menjadikan bahasa Jawa semakin menarik untuk dipelajari.

Editor : Iwan Iwe



















