oleh: Eky Syahrudin
Pernahkah Anda salah paham dengan kata yang diucapkan oleh mitra bicara Anda saat berkunjung ke luar kota? Jika pernah, mungkin Anda sempat bertemu dengan false friends. False friends dapat kita pahami sebagai suatu kata dari dua bahasa atau dialek yang berbeda yang mirip dari segi bentuk atau bunyinya, tetapi berbeda maknanya. Istilah false friends dalam artikel ini selanjutnya akan disebut sebagai “kawan semu”.
“Kawan semu” biasanya menemui kita saat kita merasa familier dengan suatu bentuk kata yang diucapkan oleh mitra bicara kita hingga lengah memahami perbedaan makna atau fungsinya. Salah satu contoh peristiwa ini adalah kata sore dalam bahasa Jawa dialek Using. Secara bentuk, kata sore juga ada, baik dalam bahasa Jawa standar, maupun bahasa Indonesia. Akan tetapi, dalam bahasa Jawa standar dan Indonesia, sore merujuk pada waktu petang yang berbeda dari sore dalam bahasa Jawa dialek Using yang bermakna ‘kemarin’. Perbedaan makna ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman antarmitra bicara apabila salah satunya berasal dari masyarakat luar Using.
Bayangkan kesalahpahaman yang jenaka sekaligus membingungkan ini dalam kehidupan nyata. Seorang pendatang asal Surabaya bertanya kepada warga lokal Banyuwangi, "Kapan jembatan penghubung desa itu selesai diperbaiki?" Si warga menjawab dengan ramah dan santai, "Sore." Terbuai dalam keramahan sang “kawan semu”, si pendatang pun sabar menunggu hingga petang hari tiba, padahal maksud warga lokal tersebut adalah bahwa jembatan itu sudah selesai diperbaiki sejak kemarin. Sang “kawan semu” ini hadir dalam percakapan mereka semata-mata karena mereka berasumsi bahwa kesamaan bunyi pastilah menjamin kesamaan arti.
Fenomena “kawan semu” ini menunjukkan bahwa kedekatan geografis atau kultural sama sekali tidak menjamin keselarasan makna. Pada akhirnya, "kawan semu" ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa menghargai keragaman bahasa Nusantara bukan hanya perkara menghafal perbedaan kosakata, melainkan juga melatih kepekaan agar tidak mudah terlena oleh kesamaan “bungkus luar”. Komunikasi yang efektif selalu bermula dari kerendahan hati untuk tidak terburu-buru berasumsi. (*)
Editor : Iwan Iwe



















