Madu mongso menjadi salah satu makanan tradisional khas Jawa Timur yang tetap bertahan hingga kini. Kudapan manis ini banyak dijumpai di daerah Madiun, Ponorogo, hingga sekitarnya, meski juga dikenal luas di wilayah Jawa Tengah. Madu mongso kerap hadir dalam berbagai acara hajatan maupun perayaan hari besar.
Terutama saat Hari Raya Idulfitri, madu mongso hampir selalu tersaji di meja tamu. Teksturnya yang legit dan rasa manisnya yang khas membuat camilan ini sangat cocok dinikmati bersama keluarga maupun tamu yang datang bersilaturahmi.
Sekilas, madu mongso memiliki tekstur menyerupai dodol. Namun, bahan dasarnya cukup unik karena terbuat dari tape ketan hitam yang difermentasi, kemudian dimasak bersama santan dan gula hingga mengental. Proses memasaknya membutuhkan waktu berjam-jam dengan pengadukan terus-menerus agar menghasilkan tekstur legit dan tidak gosong.
Pemilihan bahan baku menjadi kunci utama dalam proses pembuatan. Para perajin biasanya menggunakan ketan hitam berkualitas tinggi agar hasil akhir madu mongso tidak keras atau ngletis. Perpaduan rasa manis dengan sedikit sensasi asam khas tape menciptakan aroma fermentasi yang lembut dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya.
Baca Juga : Pj. Gubernur Adhy Gelar Welcome Dinner Delegasi 11 Negara AUG 2024
Dari segi tampilan, madu mongso umumnya dibungkus menggunakan kertas minyak warna-warni berukuran kecil. Namun kini, kemasannya semakin bervariasi; mulai dari plastik bening berbentuk kotak hingga kemasan bulat kecil yang diikat pita agar terlihat lebih modern dan higienis. Untuk harga, kudapan ini relatif terjangkau, dibanderol mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah tergantung ukuran kemasan dan produsennya.
Selain sebagai camilan, madu mongso juga memiliki nilai filosofis. Di beberapa daerah, makanan ini sering disajikan saat acara pernikahan atau selamatan sebagai simbol harapan akan kehidupan yang manis dan harmonis.
Meski kini banyak jajanan kekinian bermunculan, madu mongso tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner khas Jawa Timur. Tekstur legit dan proses pembuatan yang masih tradisional menjadikannya bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















