PONOROGO - Kondisi memprihatinkan menyelimuti akses jalan di Dukuh Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Selama bertahun-tahun, sejumlah anak sekolah terpaksa digendong untuk menyeberangi sungai karena ketiadaan jembatan penghubung. Tak jarang, warga terpeleset saat melintasi dasar sungai yang licin.
Pemandangan ini menjadi rutinitas harian di wilayah tersebut. Para orang tua harus bertaruh keselamatan demi mengantar buah hati mereka menuntut ilmu. Kondisi terisolasi ini terjadi sejak tahun 2006, setelah jembatan bambu atau jembatan sesek yang menjadi satu-satunya akses warga hanyut terbawa arus. Sejak saat itu, belum pernah ada pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut.
Akibatnya, warga terpaksa menyeberangi sungai untuk bekerja maupun sekolah. Saat hujan turun dan debit air meningkat, anak-anak terpaksa bolos sekolah karena kondisi sungai yang membahayakan nyawa.
Salah satu warga, Soiman, mengaku setiap hari harus menggendong anaknya yang masih duduk di bangku PAUD. “Jalan aksesnya hanya sungai ini. Kalau banjir, harus menunggu sampai airnya surut. Kalau tetap tinggi, anak-anak libur sekolah,” ujar Soiman.
Baca Juga : Harga Kemasan Plastik Melonjak, Pelaku Usaha Tertekan
Risiko menyeberangi sungai juga dialami Katijem, warga setempat yang pernah terpeleset hingga mengalami cedera serius. Kini, ia harus berjalan dengan bantuan tongkat. Ia menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup saat akses terputus total akibat banjir.
“Jembatannya tidak ada. Kalau banjir ya berhenti sekolah, mau makan juga susah. Anak-anak pernah tidak sekolah sampai satu minggu. Untuk makan pun, kami sempat hanya makan nasi goreng tanpa lauk karena tidak bisa ke mana-mana. Ini akses satu-satunya,” keluh Katijem.
Saat ini, Dukuh Karangsengon hanya menyisakan enam kepala keluarga (KK). Jumlah ini menyusut drastis dari sebelumnya yang mencapai hampir 20 KK. Warga lebih memilih pindah karena lokasi yang semakin terisolasi dan minimnya perhatian infrastruktur.
Baca Juga : Pemkab Ponorogo Godok Wfh, Mulai Berlaku Minggu Depan
Hingga kini, warga hanya bisa berharap adanya pembangunan jembatan permanen dari pemerintah daerah agar akses pendidikan, ekonomi, dan keselamatan mereka lebih terjamin. (*)
Editor : Iwan Iwe



















