SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi membuka Lomba Kampung Pancasila di Balai Kota Surabaya pada Kamis (17/9/2026). Perlombaan ini melibatkan 1.360 RW dari 153 kelurahan di seluruh Kota Surabaya. Warga Kota Surabaya turut memeriahkan acara pembukaan tersebut dengan membawa kentongan sebagai simbol gotong royong antarwarga.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya Lomba Kampung Pancasila adalah untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong sesuai dengan filosofi Pancasila. Eri juga menceritakan kisah sejarah saat Presiden Soekarno bertemu dengan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, yang kala itu menanyakan nasib Indonesia jika Soekarno telah tiada.
"Tujuan Kampung Pancasila adalah kembali mengutamakan gotong royong sesuai dengan filosofi Pancasila. Sebagaimana yang saya ceritakan tadi, ketika Soekarno bertemu dengan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, beliau ditanya, 'Apa yang akan terjadi dengan Indonesia jika Anda wafat?' Soekarno menjawab, 'Saya tidak pernah mengkhawatirkan Indonesia ketika saya tinggalkan karena memiliki Pancasila yang menyatukan seluruh warga di Indonesia,'" ujar Eri.
Menurut Eri, para sejarawan menyadari bahwa Indonesia dapat terus bertahan karena nilai-nilai gotong royong yang terkandung dalam Pancasila. Ia berharap keberadaan Kampung Pancasila ini dapat memperkuat budaya gotong royong, saling tolong-menolong, dan saling menjaga di Kota Surabaya.
"Saya berharap, dengan kembali ke Kampung Pancasila, semangat gotong royong, saling tolong-menolong, dan sikap saling menjaga dapat diterapkan di Kota Surabaya. Jika saat ini kita masih melihat adanya ketimpangan, hal itu terjadi karena berkurangnya rasa gotong royong serta kurangnya rasa saling memahami antara satu dengan yang lain," ucapnya.
Pelaksanaan perlombaan ini berpedoman pada empat pilar utama, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial budaya, dan kemasyarakatan. Eri optimistis bahwa jika keempat pilar tersebut berjalan dengan baik, lingkungan akan terjaga, perekonomian akan bergerak, dan kepedulian sosial warga akan makin kuat.
"Pelaksanaannya mencakup empat bidang, di antaranya bidang ekonomi dan sosial budaya. Insyaallah, ketika program ini berjalan, lingkungan akan terjaga, perekonomian akan bergerak, serta jiwa sosial untuk saling membantu akan tumbuh," tutur Eri.
Eri menegaskan bahwa berbagai permasalahan di Kota Surabaya tidak dapat diselesaikan oleh Wali Kota seorang diri. Penanganan masalah membutuhkan gotong royong yang menjadi ciri khas Pancasila untuk memajukan kota. Oleh karena itu, pengurus RT, RW, LPMK, serta seluruh warga diajak bergerak bersama mewujudkan Surabaya yang sejahtera berbasis nilai-nilai Pancasila.
"Saya selalu mengatakan bahwa kemajuan Kota Surabaya bukan karena Wali Kotanya, melainkan karena warganya yang ditopang oleh semangat gotong royong yang menjadi ciri khas Pancasila. Pihak yang menggerakkannya adalah RT, RW, LPMK, serta seluruh warga Kota Surabaya. Artinya, jika ingin Surabaya sejahtera, seluruh elemen masyarakat harus bergerak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," katanya.
Selain itu, pemerintah kota harus menjadi bagian langsung dari masyarakat dan memberikan teladan. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bertindak sebagai pengampu untuk menjaga lingkungan, menggerakkan roda perekonomian, serta menghidupkan semangat gotong royong di kampung pembinaannya. Eri menjelaskan bahwa OPD yang tidak mampu menggerakkan pilar-pilar tersebut akan diberi bendera hitam sebagai wujud evaluasi, karena pemerintah bertugas mengembalikan semangat gotong royong dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Penyelenggaraan Lomba Kampung Pancasila ini juga membuka peluang besar bagi Generasi Z (Gen Z). Menurut Eri, perlombaan ini dapat mendorong generasi muda menjadi wirausahawan, seperti berjualan telur ayam hingga menanam atau menjual buah melon. Kegiatan positif ini diharapkan membuat Gen Z tidak hanya berdiam diri di rumah, melainkan aktif bersosialisasi dan berkegiatan bersama.
"Hal tersebut diwujudkan melalui penanganan pengangguran terbuka dan pergerakan anak-anak Gen Z saat ini. Mereka sudah mulai bergerak, ada yang menjual telur, ada yang bertani atau menjual melon, serta berbagai bidang lainnya. Jadi, apa pun yang bisa mereka gerakkan, mereka jalankan. Saya tidak ingin Gen Z di Surabaya ini hanya diam di rumah, tidak pernah bersosialisasi, dan tidak memiliki kegiatan bersama," pungkasnya.
(Muhamad Maulana Saputro)
Editor : Iwan Iwe



















