SURABAYA - Di tengah rendahnya minat generasi muda terhadap museum, siswa SMK Ketintang Surabaya diajak belajar sejarah dengan cara berbeda. Melalui program “literasi angkot”, mereka mengunjungi Museum 10 November pada Sabtu (26/04/2026). Kegiatan ini tidak hanya sebatas observasi, tetapi juga diolah menjadi presentasi hingga konten storytelling.
Kegiatan ini digagas oleh guru Bahasa Indonesia SMK Ketintang Surabaya, Fahrudin Imam Nur Kholis, sebagai bagian dari pengembangan literasi melalui pembelajaran di luar kelas. Program tersebut diikuti oleh siswa kelas X dari lima kelas yang terlibat dalam kegiatan literasi sekolah.
“Kalau di kelas itu mudah bosan. Beda kalau kunjungan langsung. Dari situ mereka bisa merasakan gejolak emosi sehingga mampu menceritakan kembali,” ujar guru yang akrab disapa Pak Ois tersebut.
Dalam kegiatan ini, siswa mengamati langsung koleksi dan sejarah yang ada di museum, kemudian mengumpulkan data sebagai bahan laporan. Hasil pengamatan tersebut selanjutnya disusun dan dipresentasikan untuk melatih kemampuan bernalar sekaligus public speaking.
Selain itu, siswa juga diarahkan untuk mengolah hasil observasi menjadi konten sederhana berbasis storytelling. Pendekatan ini diharapkan mampu menyesuaikan dengan kebiasaan siswa yang dekat dengan media digital.
Konsep “literasi angkot” menjadi pendekatan utama dalam kegiatan ini. Siswa tidak hanya belajar di lokasi, tetapi juga memanfaatkan perjalanan menggunakan angkutan umum sebagai ruang diskusi dan refleksi bersama.
“Kami sengaja memilih angkot karena lebih santai dan dekat dengan keseharian mereka,” tambah Kholis.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut melibatkan komunitas Main Baca yang menghadirkan pendekatan literasi berbasis eksplorasi dan kreativitas. Melalui kolaborasi ini, siswa diajak memilih objek sejarah, menyusun alur cerita sederhana, hingga membuat konten storytelling dengan gaya mereka sendiri.
“Seperti namanya, Main Baca, jadi membaca sambil bermain agar lebih menyenangkan dan dekat dengan anak-anak,” ujar Aan, pegiat komunitas tersebut.

Aan mengaku terkejut dengan antusiasme siswa selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, siswa tidak hanya aktif mengikuti arahan, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis.
“Kami cukup kaget, ternyata banyak yang antusias bertanya, dan pertanyaannya pun cukup berbobot,” ujarnya.
Bahkan, sejumlah siswa mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih mendalam, seperti minimnya representasi tokoh perempuan dalam narasi sejarah yang ditampilkan di museum.
Kholis menilai pembelajaran langsung di museum menjadi media yang efektif untuk menjembatani generasi muda dengan sejarah. Ia menyebut pengalaman langsung memberikan kesan berbeda dibandingkan hanya belajar melalui teori atau media sosial.
“Selama ini mereka mungkin hanya tahu dari media sosial. Tapi ketika datang langsung, ada perasaan yang berbeda,” jelasnya.
Ke depan, Kholis berharap kegiatan literasi semacam ini dapat terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak pihak. Ia menekankan pentingnya kolaborasi agar literasi tidak berjalan secara kaku, tetapi berkembang sesuai kebutuhan siswa.
“Berkolaborasi dengan berbagai komunitas akan membuat kita terus berkembang,” pungkasnya.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















