SURABAYA - Bulan Suro identik dengan berbagai pantangan yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Mulai dari larangan menikah hingga pindah rumah, berbagai kepercayaan tersebut tidak lepas dari nilai spiritual dan budaya yang melekat pada bulan pertama dalam penanggalan Jawa tersebut.
Berikut lima mitos yang masih berkembang di masyarakat terkait bulan Suro.
1. Larangan Menikah pada Bulan Suro
Menggelar hajatan besar seperti pernikahan pada bulan Suro dianggap kurang tepat oleh sebagian masyarakat Jawa. Bulan ini dipandang sebagai waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan introspeksi, serta menjalankan laku spiritual.
Baca Juga : Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral? Ini Sejarah dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Suro juga dianggap sebagai "bulan hajatan para raja". Oleh karena itu, sebagian orang meyakini bahwa mengadakan pesta besar pada bulan ini dapat mendatangkan hambatan dalam rumah tangga atau membuat acara yang diselenggarakan tidak berjalan lancar.
2. Pantangan Membangun atau Pindah Rumah
Mitos lain yang masih berkembang adalah larangan memulai pembangunan atau pindah rumah pada bulan Suro. Sebagian masyarakat meyakini bahwa memulai sesuatu yang besar pada bulan ini dapat membawa hambatan atau kesulitan di kemudian hari.
Baca Juga : Kabut, Doa, dan Keberanian di Kawah Bromo Warnai Kisah Yadnya Kasada 1948 Saka
Meski demikian, kepercayaan tersebut lebih banyak berakar pada tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun daripada aturan yang memiliki dasar ilmiah.
3. Tidak Dianjurkan Bepergian Jauh
Sebagian masyarakat Jawa juga meyakini bahwa bulan Suro bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan jauh, terutama pada malam hari.
Namun di balik kepercayaan tersebut, terdapat nilai filosofi yang mengajarkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dan mawas diri atau eling lan waspada.
4. Malam 1 Suro sebagai Lebaran Makhluk Gaib
Salah satu mitos yang paling populer adalah anggapan bahwa malam 1 Suro merupakan "lebaran" bagi makhluk gaib. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, malam tersebut diyakini menjadi waktu ketika aktivitas makhluk halus dan roh leluhur lebih kuat dibandingkan hari-hari biasa.
Kepercayaan ini kemudian melahirkan berbagai cerita mengenai penampakan, suara-suara misterius, hingga anjuran untuk mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam 1 Suro.
5. Momen Tolak Bala dan Buang Sial
Sebagian masyarakat juga memanfaatkan bulan Suro untuk melakukan berbagai ritual seperti ruwatan, doa bersama, atau laku tirakat. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan harapan agar terhindar dari berbagai musibah.
Dalam perkembangannya, ritual tersebut kerap dikenal sebagai tradisi "buang sial". Namun bagi sebagian masyarakat Jawa, makna utamanya bukan sekadar menolak kesialan, melainkan sebagai simbol penyucian diri dan refleksi memasuki tahun baru Jawa.
Bagaimana Menyikapi Mitos Bulan Suro?
Bulan Suro memang menyimpan berbagai mitos dan kepercayaan yang telah hidup di tengah masyarakat Jawa selama berabad-abad. Namun di balik berbagai pantangan tersebut, terdapat nilai-nilai budaya yang mengajarkan kehati-hatian, introspeksi diri, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Alih-alih memaknainya sebagai bulan pembawa kesialan, masyarakat dapat menjadikan bulan Suro sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta melestarikan warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa.(luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















